Menguak Rahasia Lewat Kahve

Judul: Kahve, Shamrock & Raven

Penulis: Yuu Sasih

Penerbit: deTeens

Terbit: Mei 2015

Jumlah hlm: 240 hlm

“Saat orang sudah putus asa, hal seremeh apa pun akan dijadikan pegangan harapan.”

Kencana pergi ke ibu kota untuk kuliah sekaligus mencari jawaban atas alasan Saras, kakaknya, bunuh diri. Dia menemukan gambar shamrock (semanggi berhelai tiga) di buku harian kakaknya yang bertanggalkan empat bulan sebelum hari kematiannya, yang juga menjadi entri terakhir di sana. Isi dari halaman yang dipenuhi gambar semanggi itu menyatakan bahwa kakaknya baru saja mendapatkan hasil ramalan yang bagus dari Black Dream, kedai kopi dekat kampusnya.

“Hari ini di Black Dreams aku dapat shamrock di cangkir kopiku. Tentu aku nggak lihat apa-apa di cangkir kopiku selain ampas hitam, tapi si barista kelihatan yakin saat mengatakannya. Katanya itu pertanda akan terkabulnya keinginan terbesar orang yang mendapatkannya. Dia juga bilang kalau gambar itu jarang ditemukan saat pembacaan. Memang cuma ramalan biasa, tapi akan menyenangkan kalau benar.”

**

Saras meninggal karena menjatuhkan diri dari gedung kampus. Adiknya, Kencana, mencoba mencari tahu penyebab kakaknya bunuh diri. Seingat Kencana, Saras bukan tipe perempuan yang mudah menyerah seperti itu. Kencana pun masuk ke dalam lingkaran pertemanan Saras.

Ternyata, semua tidak segampang yang diharapkan Kencana. Banyak teka-teki yang ia hadapi. Ia pun bertemu dengan Linda dan Rasy. Mereka berdualah yang menemani Kencana untuk menemukan jawaban atas pertanyaan-pertanyaannya yang membanjir seputar kematian Saras. Kencana juga bertemu dengan Farran yang mengajarinya tasseografi–teknik membaca peruntungan menggunakan sisa daun teh, bubuk kopi, dan sedimen anggur di dasar gelas (Hal. 10). Farran, laki-laki yang juga pernah berinteraksi dengan Saras pada akhir hidupnya.

Semuanya mengarah pada benang merah yang sama. Namun, setiap orang seakan membiarkan Kencana menemukan sendiri jawaban yang tepat tanpa bermaksud memaksa. Hingga akhirnya Kencana terlibat langsung dalam persoalan inti yang juga dialami oleh beberapa perempuan di kampus tersebut. Bagaimanapun, segalanya telah selesai dan Kencana mengetahui apa yang sebenarnya ia inginkan dalam hidup ini.

**

Di dunia ini hanya ada dua golongan manusia. Kencana menyebutnya sebagai golongan resah dan golongan ikut arus. Dirinya adalah golongan yang terakhir. Baginya, menjalani hidup adalah perkara cara melewati hari dari awal membuka mata hingga kembali menutupnya. Tak pernah ada tujuan spesifik dalam hidupnya. Hal. 24.

Setelah menyelesaikan buku ini, saya menarik napas lega. Rasanya seperti baru keluar dari labirin. Bukan, bukan sesuatu yang membingungkan, tetapi sesuatu yang mendebarkan dan membuat penasaran. Poin ini tentu penting dalam alur cerita karena mampu membuat pembaca menyelesaikan pembacaan hingga akhir.

Tak jarang ada novel yang samasekali tidak menawarkan kejutan dalam kisahnya. Datar saja. Akhirnya proses pembacaan terasa sungguh membosankan. Kalau sudah ketemu buku seperti ini, rasanya ogah untuk menyelesaikannya. Untung saja, Kahve berbeda.

Sejak membuka halaman pertama, saya bisa merasakan bahwa novel ini seperti film-film mikir yang mengajak kita untuk merenung. Kita tidak hanya dibeberi fakta, tetapi diajak menganalisis apa yang sedang terjadi. Peristiwa-peristiwa pun disusun dengan detail dan mengalir secara perlahan pada suatu waktu dan cepat pada waktu lainnya. Kombinasi ini sungguh menyenangkan.

Saya juga menyukai penggambaran tokoh-tokohnya yang kuat. Kepedulian penulis untuk menyisihkan tempat bagi hal-hal remeh membuat pembacaan terasa enak. Misalnya, Rasy yang suka menggosok leher..

Rasy kembali menggosok lehernya–belakangan ini dia sering melakukannya. Hal 235

Bukan hanya Rasy, tokoh-tokoh lain pun berpengaruh pada posisi masing-masing dengan porsinya sendiri-sendiri. Tidak ada yang terlalu menonjol dan tidak ada yang muncul percuma.

Novel ini penuh dengan hal-hal yang berbau psikologis. Saya yakin, sebelum meletakkan kata pertama novel ini, penulis sudah mengendapkan idenya dengan matang hingga Kahve terasa berisi. Bukan sekadar tulisan untuk senang-senang, novel ini juga menyinggung persoalan pelecehan seksual dan sedikit tentang perbedaan orientasi seksual. Hmm, jadi ingat sebuah peristiwa dimana Indonesia pernah geger ketika seorang “dosen” diberitakan memperkosa mahasiswinya.

Kaya, mengesankan, dan jujur. Itulah kata-kata yang tepat untuk melukiskan novel ini. Membacanya, saya kira kita tak akan rugi, justru mendapat pencerahan dan hal-hal baru.

“Carpe diem. Teruslah berusaha, walaupun kepalamu yang keras bilang kalau hal itu mustahil. Hal. 136,”

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s