[Review Buku] Petualangan Bersama Sang Nyai

Judul: Sang Nyai 2–Bumi yang Tersembunyi

Penulis: Budi Sardjono

Penerbit: DIVA Press

Tahun terbit: Mei 2015

Jumlah halaman: 312

♥♥♥

Setelah bermimpi aneh, Sam mendapati dirinya terbangun di rumah sakit. Yang mengejutkan, seorang perawat bernama Sri Menur menyatakan bahwa di dalam tubuh pria itu bersemayam sebuah keris! Untuk mengeluarkannya, dia harus memakan tiga buah pisang emas setiap jam satu.

Sam yang akhirnya tertolong, kemudian terlibat jalinan hubungan mesra, mistis, sekaligus aneh dengan Sri Menur. Tak hanya itu, perjalanannya diwarnai oleh Tyas, titisan prajurit Roro Jonggrang yang membawa Sam menelusuri tempat persembunyian harta Roro Jonggrang di Prambanan; Dyah dan Sari yang mengantarkan Sam ke Gua Nagaraja, tempat harta pusaka tombak Tunggul Negoro tersimpan; dan akhirnya Sam bertemu kembali dengan Sri Menur untuk mengarungi ombak menuju Pulau Majeti, pulau keramat dengan naga-naga penjaga.

Sam, seorang wartawan freelance menjelajahi dimensi waktu, ke tempat-tempat yang tidak semua orang tahu akan keberadaannya di dunia ini.

♥♥♥

“Kalau saya laki-laki, saya juga ingin menjadi Sam…”

Begitu pikir saya setelah menamatkan cerita ini. Siapa yang enggak mau, sudah bertemu dengan para wanita cantik, diberi kesempatan pula untuk mengambil harta terpendam (terserah berapapun). Tanpa syarat apapun. Sam, seorang wartawan yang “kalah” dengan para juniornya karena usia, hidup dengan sederhana. Istri dan kedua anaknya pulang ke Temanggung demi mengurangi biaya hidup yang tinggi di Jakarta. Sementara Sam–seperti kebanyakan lelaki yang menjunjung tinggi harga dirinya–pantang pulang dan mengakui kelemahannya.

Di Jakarta, ia tetap bertahan, hingga suatu saat sakit tanpa sebab. Seorang wanita yang mengaku sebagai perawat, memberinya tiga buah pisang emas untuk dimakan. Benar saja, Sam pun sembuh. Dari tubuhnya keluar sebilah keris. Setelah itu, Sam merasa sembuh dan pulih. Kesembuhan Sam yang tiba-tiba tentu saja mengundang tanda tanya. Mereka pun mencari perawat bernama Sri Menur yang menyembuhkannya, tetapi tak ada yang mengenali.

Tak hanya sampai di situ, Sam mengalami banyak hal-hal lain yang tidak lazim. Di sini, penulis mencoba menggambarkan situasi dimana Sam seakan-akan bersama dan berkomunikasi dengan makhluk yang tak kasat mata–meskipun Sam sendiri bisa menyentuhnya, memeluk, bahkan mencium.

Membaca novel ini, kita dibawa bertualang mengenali dunia yang mungkin tak pernah terpikirkan atau bahkan menakutkan. Bagaimana tidak, kita berhadapan dengan makhluk di luar nalar yang entah memiliki kemampuan apa yang membahayakan. Namun, penulis rupanya tak ingin mengangkat sosok-sosok menyeramkan–meskipun membacanya saya juga agak-agak merinding. Penulis justru ingin mengajak kita berpikir seimbang, bahwa roh pun seperti manusia. Mereka bisa membalas budi, seperti halnya Tyas yang membawa Sam melihat bahkan mengambil harta karun yang jumlahnya tak terhingga.

Bisa dibilang, novel ini bebas dari tokoh antagonis. Sam tak menghadapi konflik besar, selain sakit itu sendiri. Sakit yang membawanya menikmati pengalaman-pengalaman mendebarkan sekaligus menyenangkan. Sam hanya mengalami konflik batin, terutama bagaimana agar akal warasnya bisa menerima hal-hal yang aneh, misalnya ketika naik travel dari Semarang menuju Temanggung.

Tiba-tiba muncul penyesalanku kenapa tadi menerima begitu saja ajakan sopir gemblung ini! Sebenarnya aku bisa menolak. Lebih baik tadi mencari losmen dan menginap semalam di Semarang, lalu baru besok pagi menuju Temanggung. Aku bisa mencari tukang pijat dulu untuk mengurut tubuhku yang pegal-pegal tidak keruan rasanya. Hal 120.

Saya rasa, penulis berhasil membuat kita terbawa emosi karena keputusan dan sikap tokoh Sam yang seakan tak mengenal rasa takut.

Hanya saja, ada semacam pengulangan yang agak janggal ketika membahas soal keris dengan Sri Menur dan Kresna, teman Sam (perhatikan hal 55 dan hal 105). Penjelasannya bisa dibilang sama persis. Jadi, rasanya seperti mengalami de javu, padahal yang mengatakannya dua orang yang berbeda.

Secara keseluruhan, novel ini menyenangkan untuk dibaca. Banyak hal-hal mengejutkan yang bisa kita temui, termasuk sindiran-sindiran cerdas dan mengena. Menemukan novel ini, saya rasanya semakin pengen untuk menciptakan dunia sendiri dengan kisahnya, tentunya dengan alur cerita yang tak kalah menyenangkan. Itulah keuntungan menjadi penulis, bukan? Selamat membaca juga.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s