[Review Buku] Meant To Be

Judul: Meant To Be

Penulis: Zee

Tahun terbit: 2015

Penerbit: PING!!!

Jumlah halaman: 231

♥♥♥♥♥

Blurb:

Kepalaku berderu ketika mataku menangkap sosok itu, duduk sendirian di sana sepertiku, tampak hampir tembus pandang di sisi jendela. Kepalaku berderu ketika otakku berputar brutal, mencoba memutuskan satu di antara dua pilihan. Haruskah aku menyapanya? Atau, aku harus tetap menjaga kewarasanku dan tetap duduk di sini?

Kedua pilihan itu berkeliaran di pikiranku, berkelebat dan berputar tanpa henti. Lalu, kilasan-kilasan bayangan dan kemungkinan mengalir di kepalaku, menyuguhkan hasil dari kedua pilihanku.

Jika menyapanya hari itu, akan banyak hal baru yang akan kulakukan bersama Vali dan teman-temannya. Tapi, juga ada banyak hal yang akan terkuak.

Jika tidak menyapanya hari itu, karierku akan bersinar bersama The Black Kit. Namun, akan banyak hunjaman tepat di hatiku.

Tapi, Tuhan selalu punya cara untuk membuat segalanya menjadi yang terbaik.

♥♥♥♥♥♥

 Ahhh.. harusnya saya yang nulis novel ini….

Begitulah pikir saya setelah menyelesaikan seluruh lembaran Meant To Be. Sejak dari halaman kedua, saya sudah terpikat dengan gaya bercerita penulis. Lincah dan ringan. Ia menceritakan banyak hal dengan sederhana tetapi menyenangkan. Tidak jarang saya bahkan terkikik menggeleng-gelengkan kepala karena imajinasi sang penulis yang tertuang dalam buku ini.

Temanya sederhana saja–lagi-lagi yang sederhana itulah yang membuat saya terpesona–adalah tentang PILIHAN. Dalam hidup ini, kita pasti selalu ditawari pilihan-pilihan yang membingungkan. Apa yang akan kita pilih? Berdasarkan apa?

Karena novel ini novel remaja, salah satu pilihan yang diangkat penulis adalah ketika harus berhadapan dengan lawan jenis. Memberanikan diri untuk mengucapkan, “Hai.” atau justru diam saja mengamati. Sangat bener. Seringkali pilihan semacam ini menjadi sesuatu yang berat dilakukan. Namun, kalau nggak dicoba, apakah kita akan kehilangan sesuatu?

Zee menjelaskan dengan sangat menarik mengenai hal yang terjadi pada seorang tokoh bernama Reo berusia 15 tahun. Masih sangat muda. Pada suatu ketika, Reo kebetulan melihat seorang gadis yang duduk sendirian di kafe dan bingung harus bagaimana. Penulis mulai membeberkan kemungkinan-kemungkinan yang akan dihadapi Reo ketika memutuskan untuk menyapa gadis tersebut. Sebaliknya, jika tidak menyapa, Reo pun akan mengalami kemungkinan-kemungkinan yang berbeda.

Untuk membangun sebuah kisah dengan dua alur–secara menarik–seperti ini saya kira perlu bakat dan kemampuan hebat. Tanpa tersandung oleh logika-logika yang tak masuk akal, penulis bercerita dengan mulus. Sebenarnya sih novel ini tidak membuat kita terlalu penasaran tentang endingnya, cara berceritanyalah yang benar-benar bisa dinikmati.

Kalau aku memutuskan menyapanya hari itu, inilah yang akan terjadi: …. Hal 9.

Sebaliknya,

Kalau aku memutuskan tidak menyapanya hari itu.. Hal.15

.. dan kedua hal itu berlangsung terus sampai babak terakhir.

Bukan hanya itu aja, kelebihan novel ini adalah sanggup membuat kita tersentak–betapa rumitnya dunia remaja masa kini. Bijak banget si penulis memberi nasihat tanpa terkesan lebih pintar.

Itu asyiknya Siska. Dia sportif dan tidak pernah menghancurkan suasana karena hal-hal pribadi. Hal 146.

Kemudian, hubungan ibu dan anak yang ideal juga diselipkan, yaitu ketika Reo bingung harus bersikap bagaimana karena sepupunya ternyata punya hubungan dengan Vali.

Aku diam sebentar. Aku masih mau memikirkannya, tapi sepertinya Ibu tidak pernah salah–setidaknya dalam pandanganku. Dari pilihannya soal makanan sampai pilihannya soal suami. Yang jelas, pilihannya itu berhasil memberikan dua keturunan super kece–aku dan Rio; terutama aku. Hal. 120

See?

Betapa koplaknya karakter Reo dalam novel ini. Membuat saya sendiri bisa saja jatuh cinta padanya–apabila benar-benar ada di dunia nyata. Masih banyak ungkapan-ungkapan konyol lain yang diselipkan penulis secara halus; tak berlebihan tetapi menyentak.

Keberhasilan yang lain adalah sosok Reo yang komplit, bisa dibayangkan dan diimajinasikan, serta masuk akal.

Oh, ya, jangan kaget juga kalau dalam novel ini nanti menemukan belasan judul lagu yang tak biasa, seperti The Look of Love, Shadow of Your Smile, Wave, dan sebagainya. Saya nggak yakin, semua remaja (bahkan orang dewasa) tahu judul-judul lagu itu. Ceritanya sih Reo adalah pemain saksofon yang mumpuni dan pengen berkarier di dunia musik sekaligus bercita-cita sebagai dokter. Bener-bener charming kan?

Pokoknya.. ini adalah salah satu novel remaja terbaik yang pernah saya baca. Kamu juga harus baca!

Iklan

2 thoughts on “[Review Buku] Meant To Be”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s