[Review Buku] Hujan Pertama untuk Aysila

Judul: Hujan Pertama untuk Aysila

Penulis: Edi AH Iyubenu

Terbit: Maret 2015

Penerbit: DIVA Press

Jumlah halaman: 182

Blurb

Suara kecil dari balik jendela kafe yang terkuak di sebelah kursi Aysila itu terdengar begitu lamat. Nyaris punah ditelan bising hujan. Suara yang amat dikenal Aysila dengan baik, yang begitu karib dengan hari-harinya.

Setelah diam beberapa jenak untuk berpikir, Aysila menjulurkan kedua lengannya ke luar jendela, memenuhi pinta suara yang lirih itu. Ia biarkan tubuhnya ditarik dari luar dan hinggap sempurna dalam pelukan tubuh yang hangat itu.

Hujan kian mengendur. Hujan kian menyusut. Tapi tidak dengan sepasang kelopak mata Aysila yang katup. Air hangat yang tak lagi sanggup dibendung tanggul hatinya yang kian nganga dibabat luka begitu deras menetas di pematang matanya. Berjatuhan ke pipinya, lalu sebagiannya hinggap ke dagu dan lehernya, dan sebagian lainnya jatuh ke tanah, larut bersama air hujan, kemudian lesat entah ke mana…

***

Buku ini terdiri atas 12 cerpen yang ditulis oleh Edi AH Iyubenu. Jika diamati, temanya cukup beragam. Yang sama adalah 2 hal, kentalnya permainan diksi dan nama Aysila. Jadi, jangan heran jika di setiap cerpen, kita akan menemukan Aysila meskipun dengan karakter yang berbeda-beda.

Aysila di cerpen pertama adalah seorang gadis buta yang berhati baja.

Para lelaki berbisik-bisik di kafe murahan yang berada di seberang bangku jalan sambil menatapnya bahwa dialah gadis terbaik di kota ini yang amat dirindukan oleh setiap lelaki untuk melahirkan anak-anak mereka.

Mengapa? Karena Aysila hidup hanya untuk setia.

Aysila memang sedang menunggu kekasihnya yang mengatakan akan pulang pada saat hujan pertama turun menyapa tanah. Aysila terus menunggu bahkan hingga pemilik kafe telah pamit dan ia dipersilakan menunggu sampai pagi. Penantian Aysila berbuah indah. Kekasihnya datang dan memeluknya di tengah hujan.

Cerpen kedua memiliki tema yang bisa dibilang sama, yaitu kesetiaan. Aysila digambarkan sebagai perempuan yang setia menunggu di hari ulangtahunnya. Aysila yang setia—yang lain—pun bisa ditemukan di cerpen berjudul Kutunggu Kamu di Hagia Sophia. Rupanya kesetiaan sedikit banyak sudah melekat dalam karakter Aysila dalam kumpulan cerpen ini.

Cerpen yang paling menarik bagi saya adalah yang berjudul Cara Mudah untuk Bahagia. Dari judulnya, cerpen ini agak sedikit meragukan. Tampak seperti judul tips-tips murahan yang banyak kita temui di internet. Namun, isinya tidaklah sesederhana itu. Cerpen ini berisi perbincangan antara 3 orang, yaitu Erdem Bora, si lelaki pemurung, Aysila Dilara (lagi-lagi), dan Pamuk, nama yang juga beberapa kali muncul dalam beberapa cerpen. Mereka berbincang-bincang tentang hal-hal yang filosofis. Tak salah jika dalam cerpen ini bertebaran nama-nama seperti Derrida, Sartre, dan sebagainya. Salah satu hal yang mereka perdebatkan adalah bagaimana cara untuk tetap merasa bahagia. Saya menikmati dialog mereka dan bagaimana penulis menyelesaikan cerita itu.

Meskipun judulnya sangat datar—yang mana justru menjadi daya tarik tersendiri—isinya nggak terkesan mengkhotbahi. Meskipun saya rasa penikmat cerpen-cerpen berat terbatas jumlahnya. Kita harus belajar memahami apa itu hiperrealitas, cogito ergo sum, dan sebagainya.

**

Apa yang disebut penulis sejak awal—bermain-main dengan diksi—saya kira berhasil. Meskipun saya rasa ada beberapa hal yang tak sesuai. Misalnya, ungkapan tumpukan wanita (hal. 97). Saya rasa sih yang ditumpuk-tumpuk biasanya hanya benda, tidak termasuk manusia.

Namun, lain daripada itu, saya menyukai dan menyenangi diksi-diksi yang mengejutkan dalam cerpen-cerpen ini. Misalnya, sekuntum kabut. Ini sangat puitis, bukan? Masih banyak keindahan-keindahan lain yang bisa ditemukan dalam kumpulan cerpen ini. Tinggal bagaimana cara kita menikmatinya saja. Selamat membaca.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s