Day 38: [Review Buku] Married, Single, and in Betweeen

Judul: Married, Single, and in Between

Penulis: Ca

Tahun terbit: Desember 2014

Penerbit: DIVA Press

Jumlah halaman: 459 

Blurb:

Oh Hyesung, Park Yookwon, Kim Chunhee, Byun Jaeho, dan Do Shiyoon adalah sahabat sejak kuliah. Di antara mereka hanyalah Hyesung yang belum menikah. Dia skeptis karena masa kecil yang buruk.

Yookwon terkungkung dalam pernikahan bersyarat. Jaeho terpaksa melupakan impiannya menjadi ayah bagi Remi serta tertuduh perusak masa depan Moonhye. Chunhee lebih sering menghilang akibat enggan bertatap muka dengan istri yang dijodohkan keluarganya. Dan Shiyoon, menjalin hubungan dengan seseorang dari kalangan minoritas yang perlu disimpannya rapat-rapat.

Hyesung tak pernah menyangka, keterlibatannya dengan pria-pria yang telah menikah, perlahan mengubah pandangannya. Dia pulalah si benang merah itu..

 ♠

Membaca novel yang lumayan tebal ini, seperti sedang menonton drama Korea yang mengaduk-aduk perasaan. Oh Hyesung, Park Yookwon, Kim Chunhee, Byun Jaeho, dan Do Shiyoon adalah karakter utama dalam novel ini. Memiliki latar belakang yang berbeda-beda, kelimanya tetap bersahabat dan saling membagi rahasia. Di antara mereka, Oh Hyesung sendirilah yang belum menikah.

Penulis memulai cerita dari sudut pandang Hyesung. Pria yang bekerja di perusahaan milik keluarga Park ini harus membereskan kekacauan yang disebabkan oleh Yookwon dengan meluluskan permintaan Nam Sooni, wanita yang dibawa Yookwon ke Pulau Jeju selama beberapa hari.

Sampai di sini, saya menduga-duga, apakah Yookwon adalah tipe pria tak tahu diri, yang meskipun telah beristri tapi masih menginginkan wanita lain? Ternyata bukan. Yookwon memiliki alasan di baliknya. Oleh karena itu, ia tak segan-segan melakukannya dan melimpahkan sisanya kepada Hyesung, orang yang dianggapnya kolega sekaligus sahabat.

Aku tidak bisa datang sendirian ke sana dan mengembuskan rumor ketidakharmonisan pernikahan. Bukan masalah, karena itu pesta topeng. Tak ada yang mengenali kami. Hal 20

Ternyata Sooni bukan wanita sembarangan. Demi ibunya, ia bertekad untuk bekerja di perusahaan Park, bukan sekadar menuntut balasan atas apa yang telah dilakukannya untuk Yookwon. Lalu karena hubungan dengan Gain terdesak, Yookwon memohon Hyesung untuk mencari dan membawa Sooni. Sekadar membuat Gain percaya bahwa Yookwon dan Sooni tak memiliki hubungan apa-apa. Keadaan menjadi tak terkendali hingga tanpa sengaja Hyesung dan Sooni “dijodohkan”.

Sejak itulah, perasaan berbeda di antara Hyesung dan Sooni pun tumbuh. Mereka berdua mulai berusaha mencari satu sama lain. Tampaknya, tidak begitu ada masalah dalam hal ini.

Konflik yang justru diangkat oleh penulis adalah kehidupan keempat sahabat Hyesung. Novel ini ibarat 4 kisah berbeda, dengan kondisi yang berbeda-beda, dalam satu buku. Namun, jangan salah, masing-masing di antaranya terkait erat. Misalnya, hubungan Shiyoon dengan Hyesung pada bab terakhir. Sebuah kejutan dihadirkan oleh penulis. Tanda-tanda kejutan ini telah disisipkan di cerita-cerita sebelumnya, meskipun sangat halus.

Cara membangun kejutan ini saya rasa butuh keahlian tersendiri. Pembaca tak kehilangan arah meskipun cerita melebar kemana-mana. Ada bagian-bagian terkait yang bisa dilihat ulang dan bikin kepala kita mengangguk-angguk maklum, “Oh, pantas saja…”

Hal kedua yang saya suka dari novel ini adalah gaya bahasa dan kosa kata penulis. Tidak kaku, justru mengalir dan tak bikin bosan. Renyah. Kepiawaian itu juga terlihat dari adegan-adegan yang ditulis dengan manis. Misalnya pada halaman 122, ketika Hyesung meminta Sooni memanggilnya dengan sebutan, “Oppa..” Atau ketika Shiyoon memijat kaki sang istri di halaman 340.

Selain konflik dalam hidup Yookwon, Jaeho pun berjuang dengan statusnya sebagai ayah muda yang “ditinggal” istrinya. Remi, sang anak, masih sangat kecil untuk mengerti kesulitan orangtuanya. Tanpa bisa dicegah, Yookwon dan sahabat-sahabat yang lain pun ikut berinisiatif membantu—meskipun ditolak mentah-mentah oleh Jaeho. Chunhee dan Shiyoon memiliki masalah yang berbeda pula.

Namun, tema utama dari novel ini adalah permasalahan di dalam keluarga. Bagaimana tradisi atau keinginan orangtua justru membuat hidup suami istri menjadi tak nyaman. Ada yang dijodohkan, ada yang dipisahkan, dan sebagainya. Kita, pembaca, belajar dari sudut pandang seorang laki-laki/suami, bagaimana melihat dan memperjuangkan apa yang dinamai keluarga.

Novel ini menarik secara keseluruhan. Hanya saja memang tebalnya perlu diantisipasi oleh orang yang bernafas pendek saat membaca. Harus tahan berlama-lama sampai menghabiskan seluruh halamannya. Namun, jangan takut, alurnya menarik untuk diikuti.

Buknakah menginginkan sesuatu yang sangat tak mungkin didapatkan berasa begitu menyakitkan? Hanya bisa bermimpi tanpa kepastian, hanya bisa membayangkan sesuatu tanpa bisa menyentuhnya. Hal. 459

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s