Day 8: [Challenge] Minimalist Lifestyle

Setelah challenge Love Letter selesai, tiba-tiba dapat ide untuk melakukan sesuatu yang selama ini sangat ingin saya lakukan: mengubah gaya hidup. Bukan kebetulan kalau beberapa kali saya menemukan link di media sosial tentang minimalist lifestyle, misalnya di sini dan di sini. Sebenarnya kalau kita searching, masih banyak tautan lain yang menolong kita memahami lebih banyak tentang gaya hidup minimalis ini.

Inti dari gaya hidup ini secara umum adalah membuat segala sesuatu menjadi sederhana. Dalam banyak hal, seperti barang-barang, cara berpikir, cara bertindak, dan sebagainya. Secara pribadi, saya menyukai konsep ini, meskipun dalam pelaksanaannya belum sepenuhnya bisa. Prinsip dalam minimalism adalah be more with less. Kita mengurangi hal-hal yang bisa dikurangi untuk mendapatkan sesuatu yang lebih, mungkin rasa puas, tempat kosong, dan sebagainya.

Mungkin bagi kaum pria, hal ini biasa dilakukan. Bagi wanita? Aduh, susah banget. Bagaimana mungkin mengurangi isi lemari jika semua yang ada di dalamnya suatu saya (kita pikir) masih bisa digunakan? Tank top yang lusuh tapi nyaman dipakai, bolero-bolero yang hanya sekali setahun dipakai, gaun yang warnanya ngejreng dan membuat kita tak nyaman, semua itu kita anggap sebagai harta. Padahal, mungkin kalau nggak ada, sebenarnya juga hidup kita aman-aman saja.

Nah, bagi yang udah expert, para minimalist ini berupaya untuk mengurangi barang-barang yang mereka miliki hingga hanya 100 items. Seluruhnya. Mulai dari baju, sepatu, perlengkapan lain-lain. Karena itu, barang-barang tersebut harus fungsional dan efektif banget. Misalnya, gaun hitam bisa digunakan pada pesta malam hari atau pun pada acara pemakaman.

Salah satu cara sederhana untuk menjadi minimalist adalah tidak membeli barang yang masih ada atau tidak dibutuhkan. Misalnya, membeli sepatu hanya karena suka modelnya. Kalau saya sih biasanya membeli tupperware padahal nggak perlu-perlu banget. Untuk itu, bagi para pemula disarankan untuk mulai mengurangi barang-barang yang kita mempunyai lebih dari satu. Bisa dengan menjualnya ataupun menghibahkan. Kalau udah ideal, nanti tinggal menganut prinsip, hilang satu tambah satu aja. Jadi, barang-barang pun hanya diganti kalau sudah tak berfungsi lagi.

Kesulitan: sebagai cewek, saya lebih sering tergoda bentuk dan warna dibanding fungsinya. Akibatnya, saya memiliki beberapa barang dengan fungsi yang sama. Kedua, saya masih menganggap bahwa setiap barang mempunyai kenangannya sendiri. Benar sih. Tapi, kalau semua barang kita simpan meskipun kita sudah tak bisa menggunakannya lagi, bayangin bagaimana hidup kita selanjutnya. Berat.

Untuk itu, saya ingin menantang diri sendiri, mumpung sedang berada di tahun terakhir sebelum 30 (waa udah uzurr). Sebelum Jan 31 nanti, saya ingin hidup saya lebih plong dan lega. Perkembangan yang saya rasakan akan di-posting di sini setiap Selasa (kalau tak ada halangan) šŸ˜€

Mari mengurangi!

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s