Day 96: [Review Buku] The Chef

IMG_0355
Judul: The Chef

Penulis: Hanna Enka

Penerbit: Mazola

Jumlah halaman: 286

Tahun terbit: 2015

♥♥♥

Karena selain sentuhan, rasa adalah ingatan terbaik yang dapat menemukan berbagai kenangan di masa lalu yang sempat hilang. Berkat rasa dalam resep yang kuingat tentangmu itu, membawaku akhirnya ‘tuk menemukan dirimu lagi. Hanna Enka

Masih ingat apa cemilan kamu pada masa kecil? Kalau sekarang kamu kembali menemukan cemilan itu dan memakannya, apa yang kira-kira akan terjadi? Kebanyakan orang mengakui bahwa makanan bisa membawa kita ke masa lalu. Kita ingat tentang betapa bahagianya kita dulu, betapa menyenangkannya masa itu, atau sebaliknya, kita mengingat hal-hal buruk yang pernah terjadi.

Kalau ada orang yang merantau jauh dari rumah, cita rasa makanan di daerah asal pasti akan selalu dirindukan. Apalagi jika makanan tersebut setiap hari tersaji di meja makan dan dimasak sendiri oleh ibu. Lalu, kalau suatu ketika kita menemukan jenis makanan yang rasanya hampir sama, rasa kangen pun membuncah.

Mengambil ide sederhana itu, penulis menciptakan sebuah kisah berjudul The Chef. Diceritakan, seorang gadis bernama Feba kembali datang ke Miami untuk menemukan seorang laki-laki yang ia juluki Pangeran Puding. Mereka bertemu pertama kali di sebuah taman–saat itu Feba adalah mahasiswi jurusan kuliner–tepat ketika perasaan Feba sedang tidak baik-baik saja. Feba baru saja mendengar kabar bahwa orangtuanya meninggal. Tanpa teman di negeri orang, Feba merasa sangat sedih, tak ada tempat bersandar. Pada waktu itulah, seseorang di sebelahnya bertanya: “Apa kau baik-baik saja?”

Bukan hanya menyapa dan menenangkan Feba, laki-laki itu pun menawarkan sebuah puding pada Feba untuk menghiburnya. Alhasil, tindakan sederhana itu terekam kuat di ingatan Feba, meskipun ia telah pulang ke Indonesia.

Beberapa lama kemudian, Feba mendapat kesempatan untuk kembali ke Miami. Ia ingin mencari dan bertemu dengan laki-laki yang begitu peduli padanya di masa terberatnya itu. Meskipun ia harus mencari di seluruh Miami, Feba tetap berusaha. Salah satu cara yang dilakukannya adalah dengan bertanya pada Universitas Johnson and Wales, tempat kuliahnya dulu. Dengan membawa sebuah foto, ia akhirnya mendapatkan sebuah nama: Rein Davis.

Sayangnya, karena waktu yang mungkin membuat orang berubah, tampaknya Rein Davis tak ingat lagi dengannya. Meskipun ia sudah membawa puding yang persis sama dengan yang dimakannya beberapa tahun lalu. Feba pun tak terlalu ngeh lagi dengan wajah orang yang dicarinya tersebut.

Lalu, bagaimana selanjutnya hidup Feba di Miami? Apakah ia akan pulang ke Indonesia begitu saja karena orang yang dicarinya ternyata tak ingat lagi padanya? Atau adakah kejutan lain yang tak disangka?

Dari alur cerita, novel ini lumayan. Semua berjalan seperti seharusnya, meskipun beberapa hal menurut saya agak janggal. Misalnya, alasan Feba datang kembali ke Miami. Apakah hanya untuk menemukan seseorang yang pernah menyapamu di masa lalu kamu mau menyeberangi benua? Mmm.. mungkin. Mungkin juga enggak. Karena, tentu saja Feba mempunyai kehidupan yang ia jalani pada masa kini.

Tapi, okelah, itu pilihan penulis. Bisa saja, dalam novel ini, karakter tokohnya memang demikian; mengejar hal-hal sederhana karena itulah yang masih nyangkut di benak.

Kemudian, yang sebenarnya saya sayangkan adalah latarnya yang kurang kuat. Penulis mengambil latar di Miami, tapi rasa-rasanya nggak ada yang istimewa. Artinya, nggak ada yang berbeda. Entah dari kebiasaan masyarakatnya, cara berbicara, dan sebagainya. Artinya lagi, kalau latarnya mau diubah ke daerah lain yang kebetulan juga berada di tepi pantai, tak terlalu berpengaruh. Nah, kalau ini sih pasti karena saya berharap banget merasakan suasana Miami yang berbeda dari Indonesia.

Selain Feba, ada tokoh lain, yaitu Demian Davis, adik Rein Davis. Ada juga Sienna, cewek berprofesi model yang mengejar-ngejar Demian. Karena merasa terancam dengan kehadiran Feba, Sienna pun berkonflik dengan Feba.

Menariknya novel ini adalah 12 resep istimewa yang dimasukkan dalam cerita. Bukan sekadar tempelan, tapi bener-bener menyatu dengan cerita. Saya rasa, ini ide yang sangat brilian. Hingga sekarang, saya belum pernah membaca jenis novel yang sama. Feba, seorang chef, memasak untuk temannya, memasak untuk bertanding dengan Sienna, dan sebagainya.

Berikut salah satu resep yang bisa dicoba:

Angsio Tofu

  • Iris daun bawang, jahe, dan bawang putih, tumis.
  • Panaskan minyak dan goreng tahu.
  • Rebus udang dan cumi-cumi yang sudah diiris, masukkan jamur.
  • Tuang air dan lada ke dalam tumisan daun bawang. Tambahkan penyedap rasa dan diamkan 2 menit.
  • Lalu, masukkan ikan, udang, dan cumi serta maizena yang sudah dicairkan.
  • Aduk selama 5 menit.
  • Setelah itu, tuang di piring dan hias dengan daun seledri dan tomat.

Nah, gimana, tertarik untuk mencobanya? Masih ada sebelas resep lainnya, lho. Hehehe. 🙂

IMG_0353

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s