Day 73: [Next Chapter] Cewek-cewek, Menabunglah!

*Tulisan ini bukan hanya untuk para wanita yang sedang mempersiapkan hari besar bernama pernikahan, juga untuk siapapun yang peduli terhadap masa depannya sendiri.

Berapa banyak dari kita yang (pernah) membayangkan akan menikah dengan mewah dan indah, setidaknya “anggun”? Gaun putih panjang dengan bouquet yang cantik, undangan bernuansa emas dan berbau wangi, suvenir yang unik atau keren, konsep acara yang waw yang diiringi oleh musik-musik akustik yang memainkan lagu-lagu James Blunt. Semuanya terlihat romantis, bukan?

Namanya juga sekali seumur hidup, tak sedikit orang yang “habis-habisan” pada saat itu. Yang penting hati senang, para tamu juga terkesan.

Oke, kalau punya duit sih silakan aja. Mau diliput media kayak artis yang itu juga boleh-boleh aja. Asal punya duit, lho. Dalam hal ini, uang menentukan segalanya. Mau pesan gedung yang besar dan sederet fasilitas lainnya, ya harus pake duit. Nggak mungkin minta. Kecualii.. punya sendiri, itu beda perkara 😛

Yang lain-lain juga butuh duit.

Nah, kalau orangtua punya perusahaan sendiri, deposito bertebaran dimana-mana, mungkin kita sebagai anak seharusnya tak perlu khawatir. Biaya apapun pasti dikaver. Ini wajar. Namanya juga orangtua, menikahkan anak termasuk bagian dari tanggung jawab.

Lantas, bagaimana jika orangtua tak kaya raya. Anggaplah golongan menengah, apakah pernikahan impian itu akan tetap dilaksanakan? Bisaaa.. tapi harus utang dulu. Lalu, siapa yang akan membayar semua itu? Kamu dan orangtuamu. Bukan orang lain.

Tampaknya pilihan itu kurang menyenangkan. Jadi, saya–berdasar pengalaman–ingin berbagi alasan mengapa seorang perempuan (baik udah punya pasangan maupun masih jomblo) perlu benar-benar mengatur pengeluarannya.

Pernikahan Impian

Seperti yang sebelumnya saya tulis, kita semua punya mimpi. Kita ingin seperti ini dan seperti itu. Bagaimana jika keadaan orangtua tak memungkinkan untuk memenuhi semua keinginan itu? Ya, kita punya pegangan. Kita bisa membayarnya sendiri. Misalnya, kita ingin undangan pernikahan itu bernuansa pink dengan blink blink. Kalau bagi orangtua, blink blink itu nggak penting. Nggak harus ada. Bagi kita? Penting. Nah, solusinya ya harus memesannya dan membayarnya sendiri. Tak perlu sampai mengemis-ngemis pada orangtua untuk mengabulkan mimpi kita.

Kepuasan

Membiayai pernikahan sendiri adalah kepuasan yang tiada tara. Seorang cewek, biasanya nggak berpikir sampai di sana. Impian selanjutnya, untuk memenuhi impian bagian pertama, adalah mendapatkan seorang calon suami yang kaya raya dan bisa memenuhi mimpi tersebut. Okay, mari berandai-andai. Jika suatu saat, kamu harus memilih antara menikah dengan seorang pria yang kaya raya tapi perilakunya nggak baik dengan pria biasa-biasa saja tapi sangat menyayangimu, kira-kira pilihanmu apa? Tentu untuk mendapatkan pernikahan impian yang membutuhkan banyak uang, pilihan pertamalah yang harus diambil. Tapi, apa sanggup, setelah acara wedding yang paling banter 6 jam itu, kamu akan menghadapi seumur hidup kesengsaraan? Gimana? Jadi, memiliki tabungan sendiri akan menolong kita untuk tak salah menentukan pilihan. Kita tak perlu terlalu berharap pada calon pasangan demi pernikahan impian. Kita bisa kok membayarnya sendiri.

Mungkin bagi seorang perempuan, biaya pernikahan adalah sepenuhnya tanggung jawab pria. Hey, pada saat itu nanti, kamu tak bisa seperti itu. Kamu juga perlu berkontribusi untuk membantunya. Apalagi jika calon pasanganmu adalah pria mandiri yang tak ingin merepotkan orangtuanya. Apa tega jika ia banting tulang sementara kamu menghabiskan seluruh pendapatanmu untuk belanja online dan main kemana-mana. Oke, sekarang mungkin kamu bilang, tega. Nanti, mungkin akan berbeda.

Jika ada perempuan yang sampai sekarang masih menunggu pria idaman yang sempurna, saya ingin bilang: berhentilah. Nggak ada pria sempurna. Mereka semua memiliki kekurangan. Kalau saya sih, lebih baik ia kekurangan uang daripada kekurangan akal sehat. Uang bisa dicari, tapi akal sehat? Saya nggak mau tersiksa sepanjang sisa hidup ini. Hehe.

Anyway, nasihat ini sebenarnya lahir dari penyesalan. Ketika saya baru bertemu dengannya, tak terlintas sedikit pun soal ini. Menikah? Menurut saya itu masih jauh di atas sana. Lalu, semua berjalan cepat dan tiba-tiba saya harus menghadapi hal-hal yang tak pernah terpikir sebelumnya. Jadi, semuanya numpuk dalam waktu yang bersamaan. Memenuhi kebutuhan itu, bekerja, mengurus segala sesuatu, dan sebagainya.

Untuk seseorang yang belum menemukan pasangan hidupnya saat ini: menabunglah. Uang memang tak bisa membeli segalanya. Benar, pasanganmu yang nanti harus bekerja keras untuk menyiapkan itu. Tapi kamu perlu berkontribusi dan berpartisipasi di sana. Kalau waktunya tiba, kamu tak perlu bingung harus meminta pada siapa.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s