Day 64: [Review Buku] Sherlock Holmes – Petualangan di Rumah Kosong

2015-01-19 14.20.19

Judul: Sherlock Holmes – Petualangan di Rumah Kosong

Penulis: Sir Arthur Conan Doyle

Penerbit: Laksana

Jumlah halaman: 319

Tahun terbit: 2014

***

Kita mengenal Sherlock Holmes dari kisah-kisah petualangannya yang menakjubkan. Meskipun hanya tokoh fiktif, keberadaannya telah semakin nyata dengan kehadiran teknologi film. Kita bisa menikmati bagaimana ia beraksi ketika memecahkan kasus-kasus yang rumit dan berbahaya. Bagaimanapun, film Sherlock Holmes yang terkenal itu berasal dari ujung pena seorang jenius bernama: Sir Arthur Conan Doyle.

Petualangan Sherlock Holmes terbagi dalam 4 novel dan 56 cerita pendek. Dalam buku ini, penerbit memilihkan 8 cerita yang dianggap terbaik dan mewakili eksistensi Holmes sebagai detektif partikelir yang terkenal di Eropa bahkan di belahan dunia lain. Salah satu di antaranya berjudul “Kasus Terakhir” yang menceritakan detik-detik yang disebut Watson–sobat Holmes– sebagai “terakhir kalinya aku melihat Holmes di dunia ini.”

Apa yang terjadi sebenarnya?

Alkisah, pada suatu sore di bulan April, Holmes datang kepada Watson dengan gugup dan ketakutan. Holmes jarang sekali terlihat seperti itu. Namun, pria itu mengakui bahwa ia merasakan bahaya sedang mendekat. Dua jarinya terluka dan berdarah. Ternyata, biang keladinya adalah Profesor Moriaty yang disebut genius namun memiliki watak kriminal. Sebagai tanggung jawab pribadi, sebelum mengakhiri kecemerlangan kariernya, Holmes berniat ingin melumpuhkan Moriaty. Bersama Watson yang selalu setia menemani petualangan Holmes, mereka pun berupaya menghentikan perbuatan Moriaty. Strategi disusun dan langkah demi langkah dipersiapkan secara detail. Ada pertarungan yang tak kelihatan antara Holmes dan Moriaty. Rupanya, si detektif menemukan lawan yang sepadan dan membuatnya berada dalam kondisi yang sangat buruk.

Dalam catatannya, Watson menulis seperti ini:

Selanjutnya, hanya sedikit yang bisa aku ceritakan. Penyelidikan oleh para ahli mengungkapkan bahwa telah terjadi pergulatan antara dua orang yang berakhir fatal dengan keduanya sama-sama jatuh ke dasar jurang. Seluruh upaya yang dilakukan untuk menemukan jasad keduanya berakhir sia-sia… Hal. 197

Saya tidak menyangka Holmes akan pergi secepat itu. Di tengah keasyikan membaca lembar demi lembar petualangan yang menarik itu, rasanya seperti dihempaskan begitu saja. Kok pahlawannya mati di tengah cerita? Apakah ada yang salah dengan penyusunan bab dalam buku ini sehingga cerita-cerita selanjutnya menjadi antiklimaks?

♠♠♠

Entah bagaimana, karakter Watson dalam kisah detektif karangan Doyle ini begitu menarik. Seorang sahabat yang siap sedia bersamamu dalam suka dan duka, mau mencatat semua petualanganmu sehingga dunia menjadi tahu, dan bersedia memberikan bantuan dalam bentuk apapun? Itulah Watson. Karakter yang sama juga saya temui setelah membaca novel Robert Galbraith aka JK Rowling, The Silkworm yang diwujudkan dalam bentuk Robin. Entah bagaimana, ide tentang seseorang yang menjadi pemeran pembantu dalam kisah heroik manapun, pasti ada. Berarti, sungguh-sungguh si pahlawan membutuhkan orang-orang di sekitarnya, baik secara spesifik berupa sahabat setia, maupun sumber daya lain, untuk melakukan semua aksinya dengan mulus.

Persahabatan keduanya begitu tulus dan apa adanya. Saya menjumpai pada suatu ketika ternyata Watson, yang ternyata belum selihai sahabatnya itu, dimarah-marahi oleh Holmes karena teledor dan sebagainya. Wajar aja, Watson hanya orang kedua yang pengetahuannya belum sebanding dengan Holmes dalam hal pemecahan sebuah teka-teki, meskipun mereka telah lama bersama-sama. Keterbukaan itu membuat cara bercerita Doyle lebih manusiawi dan normal.

♠♠♠

Ada beberapa typ2015-01-19 14.20.36o yang saya temukan dalam buku ini meskipun tak mengganggu. Kaver menurut saya sesuai dengan setting waktu dan latar yang digunakan penulis. Hanya saja, terlihat suram dan kurang eye catching, mungkin karena disesuaikan dengan genrenya. Layout halaman sama sekali tidak ada masalah; huruf dan spasi sangat cocok untuk pembaca cepat. Untuk tingkat keterbacaan, kata-kata dan kalimat; baik setelah melewati proses terjemahan maupun editing, cukup enak dinikmati. Semuanya menyatu menciptakan bahan bacaan yang tak boleh dilewatkan.

 

Bekerja adalah obat mujarab bagi kesedihan, temanku Watson. Hal 214

 

Iklan

One thought on “Day 64: [Review Buku] Sherlock Holmes – Petualangan di Rumah Kosong”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s