Day 63: [Review Buku] The Silkworm

2015-01-16 17.39.43Judul: The Silkworm – Ulat Sutra

Penulis: Robert Galbraith

Penerbit: Gramedia Pustaka Utama

Jumlah halaman: 532

Tahun terbit: 2014

***

Setelah hampir dua minggu, saya sudah mulai agak khawatir tak sanggup menyelesaikan novel ini. Dalam kurun waktu itu, saya memaksa diri untuk terus membacanya. Di sisi lain, ada perasaan sedih karena kecepatan membaca–yang dulu sangat saya banggakan itu–kini menguap entah kemana.

Untungnya, kengototan saya berbuah. Membaca akhir dari cerita detektif yang sungguh menawan dari J.K Rowling–dengan nama Robert Galbraith ini–saya puas. Banyak sekali detail yang disisipkan Rowling dalam percakapan-percakapan sederhana. Saya harus berulang kali membaca kode-kode yang samar (mungkin itu juga yang menyebabkan kelambatan membaca itu).

Perkenalan saya dengan J.K. Rowling tidak terlalu romantis. Kalau dulu banyak orang yang mengoleksi serial Harry Potter karena ngefans luar biasa, saya cukup meminjamnya di perpustakaan. Itu pun, saya tidak yakin telah membaca semua serinya. Memang menarik, sih, mungkin saya saja yang dulu tak terlalu suka genre fantasi seperti itu. Namun, pada beberapa kesempatan, saya sempat mengagumi hasil tulisan Rowling dan mengakui bahwa ia penulis yang sangat keren.

Buku ini bisa dibilang bagian kedua dari novel Rowling dengan nama Galbraith. Saya belum membaca The Cuckoo’s Calling (mungkin besok saya akan mencobanya).

Dalam The Silkworm, Rowling bercerita tentang Cormoran Strike, seorang detektif partikelir yang dihadapkan pada sebuah kasus tentang menghilangnya seorang penulis, Owen Quine. Owen menghilang setelah ia menulis sebuah buku berjudul Bombyx Mori–bahasa Latin untuk ulat sutra.

Setelah ditelusuri, ternyata isi novel terbaru Owen itu sangat kontroversial. Pembaca beruntung karena Rowling juga berbaik hati untuk menuliskannya dalam buku ini. Jadi, ya, kita seperti sedang membaca cerita dalam cerita. Dibantu Robin, asistennya yang antusias, Strike mulai mengurai fakta demi fakta. Banyak keganjilan yang harus dipecahkan artinya. Namun, Strike tidak terburu-buru, apalagi karena kakinya yang bermasalah dan selingan kenangan lama dengan Charlotte.

2015-01-16 17.40.20Seperti novel-novel detektif lainnya, saya dibawa kemana-mana untuk menduga-duga siapa pembunuhnya. Dan, entah karena kurang fokus atau kurang berbakat menebak, saya baru menemukan pelakunya pada halaman 500-an, sedikit lagi sebelum Strike menunjukkannya secara blak-blakan.

Bagaimanapun, cerita Rowling yang runtut dan tak terputus itu menciptakan tekanan yang halus untuk segera menyelesaikan membacanya lalu lega. Kalimat-kalimatnya yang panjang dan berisi sangat padat membuat saya tak ingin melewatkan sedikitpun meskipun harus membacanya dengan merayap.

Tokoh yang cukup menyita perhatian saya adalah Al, selain Robin. Saya membayangkan pria itu cukup tampan dengan busana yang menarik. Yeah, dia digambarkan sebagai pria kaya yang keren dan.. sangat bangga pada kakak tirinya. Hubungan mereka menurut saya sangat ideal, meskipun kondisi tidak mendukung mereka. Strike dengan tampilan fisiknya yang jantan tetapi selalu butuh bantuan dan sokongan pihak lain. Al, yang rindu pada kebebasan dan kemandirian, menemukan impiannya pada diri Strike.

Nah, kalau Robin, terlihat seperti Watson–si dokter, teman Sherlock Holmes. Meskipun penggambarannya tidak terlalu mirip, Robin memiliki kualitas seperti Watson. Apalah arti seorang pahlawan yang tak memiliki teman untuk berbagi dan berdiskusi? Jadi, ya, Robin menurut saya memainkan peran yang cukup penting dalam cerita ini, termasuk juga hubungannya dengan Matthew yang menjadikan seluruh cerita ini terlihat manusiawi.

Jika mereka ada di dunia nyata, saya sangat ingin bertemu dengan keduanya dan mengajukan sebuah pujian sederhana, “Kalian berdua sangat cocok, tahu nggak?”

Catatan lain: penerjemahan The Silkworm ke bahasa Indonesia dan editannya sangat rapi. Saya tak dihalangi oleh ungkapan-ungkapan khas yang mengganggu. Semua terasa seperti wajar dengan pemakaian bahasa sehari-hari dan sebagainya. Nice work! 🙂

Iklan

2 tanggapan untuk “Day 63: [Review Buku] The Silkworm”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s