Day 53: Erau Kota Raja [Review Buku] – Berani Mengikuti Kata Hati

Judul: ERAU, Kota Raja

Penulis: Endik Koeswoyo

Penerbit: PING!!!

Jumlah halaman: 203

Tahun terbit: 2015

*Terlepas dari film berjudul sama yang diadaptasi dari novel ini, dalam postingan ini saya akan membahas Erau, Kota Raja hanya dalam bentuknya sebagai bahan bacaan alias buku fiksi.

Cinta adalah sebuah pilihan, memilih untuk mencintai atau dicintai. Sebenarnya, pilihan terbaik adalah saling mencintai.

Hal. 15

Kisah dalam novel ini dimulai ketika Kirana dan Doni akhirnya memutuskan untuk berpisah, tepatnya keputusan sepihak dari Kirana. Alasannya? Ratusan kalimat “kasih aku waktu” dari Doni dalam kurun waktu 4 tahun saat Kirana meminta kepastian dalam hubungan mereka.

Namanya juga perempuan, Kirana pasti pengin settle down, menikah dengan orang yang mencintainya, lalu membentuk sebuah keluarga. Sementara Doni, yah, seperti kebanyakan pria (cmiiw, hehe) suka takut pada komitmen jangka panjang. Sebenarnya positif aja selama ketakutan itu nggak berlarut-larut atau membuat si pria akhirnya menggantung harapan pasangannya.

Mungkin karena udah bosen banget dengan alasan Doni yang itu-itu aja, akhirnya hubungan mereka berhenti sampai di situ saja. Awalnya kelegaan menguasai Kirana, tapi ia juga tak bisa mengelak dari kekecewaan karena harapan yang dibangun selama 4 tahun itu, pupus sudah. Ia harus memulai semuanya dari nol lagi. Sementara usia Kirana, ahh, semakin bertambah..

Dalam kekacauan itu, Pak Joko, pemred tempat Kirana bekerja, tiba-tiba menugaskan gadis itu untuk liputan ke Kutai Kartanegara, Kalimantan Timur. Tentu saja tanpa pemberitahuan dan persetujuan Kirana terlebih dahulu. Tugas mendadak itu membuat Kirana jengkel. Apalagi karena alasan Pak Joko yang seolah-olah mendiskreditkan dirinya yang udah jomblo dan tidak punya tanggungan.. Jiah, bahasanya 😀

Namun, Kirana berangkat juga ke Kalimantan Timur. Kejengkelannya muncul lagi tatkala di sana semua hotel penuh karena event Festival Erau yang akan dilaksanakan itu. Untunglah ia bertemu dengan Pak Camat yang mengizinkannya tinggal untuk sementara di rumahnya. Karena itu pula, Kirana bertemu dengan Reza dan Ridho.

Reza adalah pemuda asli yang ternyata memiliki latar belakang tak terduga. Ia masih tinggal dengan ibunya yang ternyata sangat protektif pada pemuda ini. Gimana engga, Bu Tati selalu setia menunggu dan bertanya (cenderung kesal) karena Reza selalu pulang malem-malem. Wajar juga sih karena menurut Bu Tati, Reza membuntuti Pak Camat kesana kemari dan pekerjaannya nggak jelas. Bahkan, niat sang ibu untuk menjodohkannya dengan gadis cantik yang sopan dan manis, Alia, ditampik mentah-mentah. Wew, benar-benar deh Reza.

Nah, kehadiran Kirana justru memberi warna baru dalam kehidupan Reza. Wanita yang apa adanya dan nggak manja itu membuat Reza kagum dan merasa hidup kembali. Dalam waktu yang singkat, mereka pun dekat, meskipun awalnya cuek. Sayangnya, Bu Tati nggak suka. Lantas, gimana? Apakah Reza tetap meneruskan pembangkangannya atau justru itu menjadi titik balik yang mengubah hubungan ibu dan anak itu? Bagaimana dengan Kirana, apakah ia bersedia meninggalkan Jakarta dan hidup layaknya orang lokal di Kalimantan Timur?

***

Si penulis memunculkan ide yang bisa dibilang cukup beda. Ia merangkai cerita tentang gadis jomblo yang terpaksa menerima kerjaan dalam keadaan galau, tapi untungnya dipertemukan dengan seseorang yang bisa saja mengubah masa depannya. Namun, dalam hal ini, saya menghargai keputusan penulis yang memilih ending cerita seperti itu. Ada kewajaran dan kenormalan di situ. Meskipun sebagai pembaca, memang benar ingin menemukan kisah romantis yang berakhir dengan happily ever after.

Hanya saja, interaksi yang dibangun menurut saya kurang greget. Tokoh yang menurut saya cukup mencuri perhatian justru Alia, yang dengan tak kenal lelah, mencoba mendapatkan hati Reza pujaannya. Ada berapa banyak “tokoh” di dunia nyata yang mengalami hal yang sama? Meskipun, cara mereka mengungkapkan perasaan tak frontal. Cinta diam-diam dalam hati dan berharap jalan untuk bersama terbuka lebar.. Fiuh.. memikirkan itu rasanya pedih.. 🙂

Anyway, seperti quote di awal tulisan ini, kisah di novel ini menuntun kita memikirkan kemungkinan lain ketika bertemu dengan orang yang tampaknya berpotensi menjadi orang penting dalam hidup kita. Tidak harus selalu bersama hanya karena perasaan mengatakan demikian. Logika perlu dijalankan dan pikiran memasak pertimbangan itu matang-matang. “Benarkah keputusan yang saya ambil?”, “Inikah jalan hidup yang akan saya tempuh?”, “Apakah saya mencintai pekerjaan saya?”

Keputusan yang matang itu, termasuk dalam hal mencintai, akan membuat kita lebih ikhlas menjalani hidup dan memperjuangkan impian, bukan sekadar karena pengakuan orang lain. Keputusan yang tepat akan membuka kesempatan-kesempatan baru yang pasti akan membuat hidup menjadi lebih baik. Berani?

Cinta bisa datang kapan saja.

Cinta bisa datang dari orang yang tepat.

Bisa juga dari orang yang tidak pernah kita pikirkan sekalipun.

Hal. 154

Iklan

One thought on “Day 53: Erau Kota Raja [Review Buku] – Berani Mengikuti Kata Hati”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s