Day 28: Yang Terakhir — Cermin Bentang

Aku masih bingung di depan etalase yang membatasiku dengan berjenis-jenis anting-anting, cincin, gelang, dan kalung emas yang indah. Kekasihku berulang kali menggamit lenganku untuk mengingatkan bahwa hari sudah semakin sore.

“Yang mana, Sayang?”

Aku menghela napas dengan berat.

“Yang ini aja, ya?” ujarnya lagi. Telunjuknya terarah pada sebuah kalung dengan liontin berbentuk strawberry. “Dia kan suka strawberry.”

Kami segera meminta pelayan membungkus benda mungil itu dengan kotak merah berhias pita warna ungu. “Perfect,” seru kekasihku sambil tersenyum.

**

Malam ini mendung dan terasa sendu. Seharusnya aku bahagia. Di kamar sebelah, terdengar senandung lirih seorang wanita. Aku termenung memandangi kado kecil berpita ungu di genggamanku.

Pintu berderit, lalu ibuku masuk. “Sudah siap, Nduk?”

Aku tersenyum samar. “Ini, Bu. Semoga berkenan.”

Ibu mengambil benda itu kemudian merangkulku haru. “Dia pasti kuat,” bisik Ibu lirih.

**

Acara pertunangan dengan Mas Ian berjalan lancar. Selain keluarga besar kekasihku, kelima saudara perempuanku dan keluarganya datang. Dari pertemuan itu, kami sepakat menetapkan tanggal pernikahan awal tahun depan.

“Jangan ditunda lagi,” ujar Bapak.

Aku menunduk. Sesekali kulirik pintu kamar yang dari pagi tertutup rapat. Ibu mengelus punggungku. Saat kutatap matanya, ada sebuah telaga bening yang membuatku lega. Ini yang terakhir, Kak, maafkan aku mendahuluimu.

Iklan

5 tanggapan untuk “Day 28: Yang Terakhir — Cermin Bentang”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s