Day 25: Angela yang Galau #ReviewBuku

angelaJudul: Angela

Penulis: Hardy Zhu

Penerbit: deTeens

Jumlah halaman: 172

Tahun terbit: 2014

Novel ini dibuka dengan “aku” atau Angela yang menghadiri reuni akbar SMP 10 bersama Gifty sahabatnya. Tak disangka, di sana ia bertemu dengan Sandy, cowok yang dulu “enggak banget” bagi Angela tapi kini berubah. Sandi yang sekarang udah gaul dan badannya berotot hasil rajin ke fitness center. Yap, banyak hal mengejutkan yang bisa kau temui dalam sebuah reuni, you know.. 😀

Singkat kata, akhirnya komunikasi terjalin lagi. Bahkan Sandi mau membelikan tiket pesawat untuk Angela untuk menghadiri acara talkshow Azka di kota lain. Baik banget, yah. Hehe. Siapa Azka? Ia adalah penulis favorit Angela. Pertemuan dengan Azka ternyata berlanjut. Azka tiba-tiba datang ke kota Angela dengan alasan mencari bahan riset untuk novel terbarunya. Di sisi lain, Sandi pun mengajak Angela untuk ikut dalam bisnis distro. Jadi, Angela terjebak di antara kedua tokoh ini. Kadang-kadang menemani Sandi, kadang-kadang Azka.

Nah, dalam kelanjutannya, Angela bingung menentukan siapa yang harus ia temani. Sandi atau Azka? Lalu tiba-tiba terbongkarlah persekongkolan antara Gifty dan Sandi. Azka pun memiliki luka lama yang akhirnya terkuak.

***

Novel ini khas anak muda banget. Ceritanya nggak terlalu rumit, menurut saya. Bercerita tentang keseharian mahasiswi yang tergila-gila dengan penulis kesukaannya, lalu teman dari masa lalu juga datang lagi. Novel ini juga berkisah tentang persahabatan dan lika-likunya.

Oke, saya ingin memaparkan beberapa hal yang perlu dibahas:

  • Gifty dan Pak Dosen Oby. Di sini diceritakan bahwa Pak Oby naksir dengan ibu Gifty. Hal ini mendadak masuk ke alur cerita, tanpa awal dan tanpa akhir. Ya, cuma itu aja. Pak Oby kasih hadiah dan Gifty marah. So? Apalagi? Kalau dipikir-pikir, ini hanya cerita insert yang sama sekali nggak memengaruhi hasil akhir kisah ini.

Aku hanya bisa menahan tawa. Aku baru ingat, ternyata Pak Oby naksir sama ibunya Gifty. Hmm, serasi sih mereka. Ibu Gifty cantik, Pak Oby tetap ganteng. Justru ini kesempatan buat Pak Oby untuk melepas status janda ibunya Gifty. Hal. 35

  • Novel ini seperti orang yang sedang menulis catatan harian. Memang sih POV-nya orang pertama. Jadi, penulis bebas menuangkan pikirannya. Tapi kadang-kadang menjadi agak tak biasa karena si “aku” seperti sedang berbicara sendiri. 

Mungkin karena saking senengnya, komunikasiku sama dia masih nggak putus-putus juga. Balas apa, ya? Hmm.. mesti bikin obrolan baru nih. Hal 73.

Gifty, nggak ada perubahan deh kayaknya. Kecuali, atmosfernya sama Pak Oby. Ketawa lagi dah aku. Pak Oby emang tokcer dalam hal pendekatan. Gifty sekarang nggak terlalu jutek lagi sama beliau. Hal. 82.

Oh, iya, aku tahu, aku salah udah bohong sama Sandi. Tapi, aku nggak suka cara dia yang narik aku begitu saja. Aku mulai merasakan kalau Sandi terlalu mengekangku. Hal. 137.

Kalau ketemu sama Azka, pasti ujung-unjungnya nggak jadi. Sekarang, aku takut membuat janji atau menerima janji. Apalagi, sama Azka. Ya ampun, jahatnya aku. Hal 150

Ya, mungkin juga sih itu style penulis untuk bercerita. Jadi, kita (pembaca) seakan-akan melayang-layang dalam pikiran Angela dan tahu segala macam apa yang ia harapkan dan inginkan.

Twist di akhir cerita lumayan meskipun sedikit ketebak. Mengingat, kemungkinan pemilik distro sengaja meninggalkan uang begitu saja di kasir tanpa pelindung sangat kecil. Kalau nominalnya kecil, masih mungkin. Tapi, kalau dari ceritanya, Sandi ngaku kalau uang mereka ludes dan semuanya sia-sia. Tampak tak masuk akal hehehe.

***

Urusan kaver, saya suka banget. Warnanya itu lho. Ngejreng. Hehehe. Lay outnya juga lumayan ramah buat mata. Spasinya gede. Enak dibaca. Selebihnya, yaa.. baca sendiri aja. Apalagi jika pernah ikut reuni dan mendadak hidupmu berubah karena itu, ya, semestinya novel Angela ini bisa membuatmu tak sendirian merasakan betapa dinamisnya hidup ini.

Ohya, untuk ending, saya appreciate juga keputusan penulis karena berani memakai ending seperti jenis ini. Jarang-jarang lho novel teenlit berakhir seperti itu. Setidaknya, itu menjadi nilai plus, menurut saya. Hanya saja, eksekusi pada awal dan tengah cerita perlu ada sentuhan lagi.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s