Day 18: Flowers in the Attic (2014)

flowers-in-the-attic-2014.17761Bagaimana perasaanmu jika disuruh menghabiskan sepanjang hidupmu di loteng yang pengap dan berdebu. Frustrasi?

Pasti.

Cathy (12), Chris (14), Cory (4), dan Carrie (4) adalah 4 bersaudara. Mereka disayangi dan dicintai oleh ayah ibunya, Christopher dan Corrine Dollanganger. Pada suatu ketika, sang ayah meninggal karena kecelakaan. Corrine tak memiliki keahlian apa-apa dan kewalahan menghidupi keempat anaknya.

Lalu, ia pun mengajak mereka untuk kembali ke rumahnya di Virginia. Di sana, mereka diminta untuk tinggal di sebuah kamar di lantai dua yang terhubung dengan loteng rumah yang kecil. Corrine dan ibunya, Olivia, menyembunyikan keempat anak itu dengan alasan bahwa Malcolm, ayah Corrine, belum bisa menerima kehadiran mereka.

Jadi, Corrine bertugas memenangkan hati ayahnya yang sudah tua dan sakit-sakitan itu agar mendapat warisan. Setelah itu, Corrine berjanji untuk mengajak anak-anaknya pergi dan melanjutkan hidup dengan bahagia.

Apa mau dikata, janji itu hanya omongan belaka. Corrine semakin jarang mengunjungi anak-anaknya. Bahkan, ia menikah dan honeymoon dengan Bart, pengacara keluarga mereka. Untuk menghibur anak-anaknya, dibuatlah sebuah taman palsu yang berisi bunga-bunga di loteng. Chris dan Cathy awalnya tetap percaya kepada ibu mereka hingga akhirnya, Corrie, sakit dan disebut meninggal karena pneumonia. Setelah menelusuri dan mengamati, ternyata ibu mereka diam-diam mencampurkan donat yang mereka makan dengan racun untuk membunuh tikus.

Dengan cara mereka sendiri, Chris dan Cathy pun berencana untuk kabur. Apakah mereka berhasil keluar dari rumah itu dengan selamat? Bagaimana caranya?

***

Sejak awal, film ini sudah terasa menegangkan. Apalagi dengan akting Heather Graham (Corrine) yang terlihat “aneh”. Film ini adalah adaptasi kedua dari novel berjudul sama yang ditulis V.C. Andrews. Tema yang diangkatnya sangat kompleks meskipun alurnya lambat. Melalui film ini, kita belajar tentang isu perempuan yang tak siap ketika ditinggal suaminya. Tanpa keahlian apa-apa, tanpa persiapan tabungan, semua akan berantakan dan berisiko membuat mereka menjadi gelandangan. Jadi, ya, perempuan harus bisa mencari uang dan menghidupi keluarganya, tidak harus bergantung pada laki-laki sebagai kepala keluarga.

Hal lain yang diangkat oleh film ini adalah tentang kasih ibu kepada anak-anaknya. Ada ungkapan yang mengatakan, kasih ibu sepanjang masa. Namun, pada masa kini, ada berapa banyak ibu yang tidak peduli kepada anak-anaknya hanya karena himpitan ekonomi. Ada ibu yang tega membuang/menjual/membunuh anaknya. Jika dipikir-pikir, kok bisa ya hal itu terjadi. Ya, itulah hidup.

Selain itu, ada hal lain yang membuat film ini menjadi kontroversi, yaitu kisah incest–hubungan antara saudara kandung–Cathy dan Chris. Dikurung dalam ruang yang sempit, pada masa remaja mereka, membuat mereka saling mencari tahu apa yang terjadi dengan perubahan tubuh mereka. Hormon masa muda tak bisa dielakkan, dan karena tidak ada tempat bertanya, mereka pun terjebak dalam urusan perasaan yang salah.

Anyway, film ini berhasil membuat mata saya berkaca-kaca. Padahal jarang banget film-film Hollywood bisa mengharukan seperti ini. Rasanya miris dan kurang percaya bagaimana seorang ibu bisa menelantarkan anak yang berasal dari rahimnya sendiri hanya karena uang. Film ini berhasil mengeksekusi tema ini dengan baik dan menyentuh. Bravo.

Iklan

One thought on “Day 18: Flowers in the Attic (2014)”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s