Day 13: Romantisme Persahabatan Remaja

Judul: Membagi Rindu

Penulis: Koko Ferdie

Penerbit: PING!!!

Jumlah halaman: 220

Tahun terbit: 2014

2014-11-27 13.18.42

“Bagaimana kalau kita membagi rindu ini berdua. Satu untukmu, satu untukku, dan tak ada sisa bagi yang lain.” Hal. 185

Saya sukaaa kaver buku ini. Hihihi. Warna krem plus pink berpadu membentuk kesatuan yang enak dilihat. Saya menduga, isinya sesuatu yang romantis ala abege2 zaman sekarang. Kalau disuruh milih secara cepat, saya pasti akan langsung menunjuk buku ini. *abaikan* #SubjektivitasSemata

Romantisme Persahabatan Remaja

Cerita dimulai dengan sebuah adegan percobaan bunuh diri. Rain, mengenakan piyama rumah sakit, berdiri tepat di ujung lantai atas gedung. Sahabatnya Nadia berteriak memintanya turun.

Rain adalah seorang cewek blasteran yang telah kehilangan ibunya. Papanya menikah lagi dan kini ia punya mama tiri. Papa Rain adalah tipe ayah yang sibuk dengan pekerjaan. Jadi, Rain terlihat seperti remaja yang kurang diperhatikan keluarga, kecuali oleh Omanya yang tinggal di Berlin.

Rain bertemu sahabat-sahabat baru saat ia mulai masuk SMA. Mereka adalah Nadia, Awan, dan Samudra. Seperti remaja pada umumnya, timbullah kisah cinta di antara mereka. Nadia menyukai Awan, Awan menyukai Rain, sedangkan Rain terpesona pada sosok Seam, sahabat Awan.

Lalu, muncul konflik dipadu dengan persoalan hidup masing-masing. Konflik inilah yang diramu penulis sehingga menciptakan sebuah alur cerita. Pada akhirnya, persahabatan mereka tetap terjalin meskipun melewati berbagai tantangan.

Remaja Masa Kini

Saya sangat menghargai upaya penulis yang mencoba menyisipkan konflik-konflik kecil di sepanjang alur cerita. Karakter dan kondisi tokoh dibikin kompleks sehingga menyulitkan pembaca untuk memihak. Misalnya, Samudra, cowok yang digambarkan menarik, ternyata menderita penyakit jantung koroner. Awan bermasalah dengan ibunya yang suka mengekang. Rain yang tak suka mama tirinya. Dan Nadia yang galau lantas patah hati.

Hanya saja, dalam eksekusinya, karakter tokoh dan interaksi antar tokoh nggak digali dengan mendalam. Misalnya, Rain, seorang blasteran berambut pirang kecokelatan. Dalam cerita, Rain digambarkan oleh Samudra melalui pertemuan pertama mereka yang sekilas.

Secara fisik, cewek itu terlihat menarik; tinggi, wajah kebulean, dan rambutnya lurus sebahu. Hal 25.

Fisik Rain sebenarnya berbeda dengan cewek lain di sekolahnya. Agar kurang wajar jika kemudian ia tak menjadi pusat perhatian. Satu-satunya cowok yang awalnya tertarik pada Rain adalah Awan, tetangganya sendiri. Hingga cerita selesai, saya tak mendapati “kelebihan” Rain ini berpengaruh pada alur cerita. Artinya, adegan Oma yang tinggal di Berlin, sebenarnya bisa diganti dengan adegan lain.

Hal kedua yang agak mengganggu adalah kebiasaan-kebiasaan tokoh. Disebutkan bahwa Samudra sebenarnya penyakitan, tetapi bersikeras mengikuti turnamen sepak bola agar bisa mempersembahkan sebuah gol untuk ayahnya. Di sisi lain, cowok ini pun terbiasa merokok dengan santai. Samudra juga memiliki mobil sendiri. Kalau dibayang-bayangkan, penggambaran karakternya agak nggak pas, yaa.. Hehe. Tapi, mungkin aja sih, di kota-kota besar, pemandangan seperti itu udah biasa. Hanya saja, dengan tema novel teenlit romantis, kehadiran Samudra agak janggal.

Justru dari penggambaran penulis, gerak-gerik Samudra tampak seperti cowok berusia 25 tahun. Dewasa muda gitulah. Sudah bekerja. Terkesan macho. Haha. Maunya.

Nah, sebenarnya ada satu hal lagi yang tak wajar, yaitu alasan Rain ingin bunuh diri. Biar nggak spoiler, baca sendiri aja ya hehehe. Bagi saya sendiri (mungkin sih pengaruh prinsip pribadi) rugi banget jika Rain memilih bunuh diri hanya karena alasan itu. Apalagi jika melihat dan mengamati interaksi yang terjalin sebelumnya tak begitu kuat.

Perlu Baca, Nggak?

Novel ini tak terlalu tebel. Cocok untuk temen menunggu. Isinya juga berkisah seputar persoalan remaja di sekolah dan bagaimana persahabatan bisa jungkir balik karena itu. Namun, kita juga bisa belajar bahwa persahabatan bisa dijaga melalui ketulusan dan keinginan membantu. Karya-karya teenlit kan menolong kita untuk menciptakan kembali kepolosan yang hilang dalam diri orang dewasa. Saat baca, mungkin rasanya lebay, ah, masak sih begitu. Tapi jauh di dalam hati, ada rasa kangen ingin mengulangi masa-masa menyenangkan itu. Iya kan?

Dalam hidup, hal yang nggak bisa dipilih cuma satu, kembali ke masa lalu. Hal. 86

Iklan

2 tanggapan untuk “Day 13: Romantisme Persahabatan Remaja”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s