Day 25 Le Mannequin—Sahabat yang Kembali

2014-09-01 09.39.48

Judul: Le Mannequin, Hatiku Tidak Ada di Paris

Penulis: Mini GK

Jumlah halaman: 300

Tahun terbit: Juni 2014

Penerbit: Diva Press

Ia lahir dan tumbuh di sebuah desa kecil di Gunung Kidul, Yogyakarta. Namanya Sekar. Karena keterbatasan biaya, ia tidak bisa melanjutkan kuliah. Namun, cita-citanya tinggi. Ia ingin menjadi desainer ternama. Dengan keahliannya menggambar, ia memutuskan untuk berangkat ke Jakarta, mengadu nasib di sebuah pabrik garmen.

Di belakangnya, Candra, sahabat masa kecilnya, merasa sangat kehilangan. Ia melakukan berbagai cara agar Sekar mengurungkan niat itu. Apa mau dikata, tekad Sekar sudah bulat. Dengan berani dan sedikit nekad, ia menuju Ibu Kota. Dalam kereta yang ditumpanginya itu, ia bertemu dengan Lukman, yang akhirnya menjadi kekasihnya selama bertahun-tahun.

Kehidupan Sekar perlahan menjadi rumit. Bukan hanya karena rekan kerja yang iri pada keberhasilannya, tetapi juga karena hubungannya dengan Lukman terancam bubar. Seseorang dari masa lalu Lukman, Sabinta, lebih disetujui orangtua menjadi pendamping hidup Lukman. Di tengah kegalauan tersebut, Sekar pulang ke Gunung Kidul dan bertemu Candra, yang menjelma menjadi idola gadis-gadis anak pejabat.

Lalu, sebuah email datang dan menawari Sekar berangkat ke Paris untuk menghadiri sebuah acara fashion. Di Paris, Sekar bertemu dengan kakak beradik, Yasak—mantan bosnya di butik  Pavo–dan Demian, yang ternyata menyimpan hati untuknya. Tanpa disangka, Lukman pun datang untuk menawarkan kembali cinta masa lalu karena rumah tangganya telah kandas.

Dalam situasi tersebut, keputusan apakah yang akan diambil Sekar? Siapa yang akan dipilihnya untuk menjadi suami? Candra, Yasak, Demian, atau malah Lukman?

***

Novel dengan cover yang lembut ini terlihat menarik. Ikon Kota Paris yang sangat terkenal digabung dengan tampilan manekin berbusana apik menyambut pandangan saya. Hmm, tampilannya sangat memberi harapan. Saat mulai membuka lembarannya, rasanya saya ingin segera duduk di sebuah taman dan menikmati buku itu tanpa gangguan sama sekali. (Hehe, tapi itu sepertinya nggak mungkin…)

Oke, inilah catatan saya tentang novel ini..

Pada satu sisi, hidup Sekar bisa dibilang sangat sempurna. Ia berhasil menggapai cita-citanya dan karyanya memuaskan banyak orang. Ia disukai bos dan dianggap sebagai tangan kanan. Di sisi lain, kisah cintanya gagal diwujudkan dalam sebuah ikatan karena latar belakangnya sebagai orang biasa. Keluarga Lukman lebih memilih seseorang yang berpendidikan dan berpenampilan lebih baik. Meskipun sebenarnya, Sekar juga termasuk gadis cantik. Sakit hati Sekar tambah terasa ketika akhirnya Lukman memilih meninggalkannya.

Cerita dibangun dengan plot maju mundur. Pertemuan Sekar secara kebetulan dengan Demian dan Yasak di Paris serta email Lukman membawa Sekar menelusuri kembali masa lalunya. Mengapa akhirnya ia berada di situ? Siapa saja orang yang telah hadir dan berpengaruh di hidupnya? Jejak-jejak itu memberinya pertimbangan untuk memutuskan siapa yang ingin ia cintai selamanya.

Pasti banyak wanita yang merasa Sekar sebenarnya sangat beruntung. Bagaimana tidak, empat orang laki-laki mapan mengejar-ngejar untuk mendapatkan cintanya. Namun, yang dirasakan Sekar justru kesedihan dan nelangsa. Mengapa? Karena cinta tidak sembarangan bisa hinggap pada setiap orang. Sekali ia sudah mendarat, susah untuk melihat ke arah lain.

Penokohan

Ada 4 tokoh utama dalam kisah ini, yaitu Sekar, Candra, Lukman, dan Yasak. Sekar adalah gadis desa yang mencoba menaklukkan Jakarta demi mencapai cita-citanya. Perjalanan hidup membuatnya berubah. Pertama, ia semakin cantik.

“Temenmu pulang kampung. Bocahe ayu tenan. Ibu-ibu sampai pangling lihat dia belanja sayur tadi pagi.” Hal 302

Kedua, ia [mengaku] sudah tidak bisa berenang,

“Bukankah kamu jago renang?” Seingat Candra, dari kecil Sekar adalah penguasa air.

“Banyak kejadian yang mengubah segalanya.” Hal 317

Sekar yang awalnya tangguh, kini tampak rapuh. Ia memang berhasil menjadi desainer, tetapi kisah cintanya kandas. Wajar jika ia pulang dengan hati yang hancur. Orang pertama yang membantunya selama di Jakarta telah meninggalkannya. Kepercayaannya untuk bergantung kepada orang lain tidak mudah lagi untuk tumbuh.

Tokoh utama kedua adalah Candra, sosok laki-laki sederhana yang tidak neko-neko. Ia adalah sahabat masa kecil Sekar yang memilih untuk tetap tinggal di desa untuk membangun dan menyemangati penduduk di sana. Banyak ibu-ibu menginginkannya menjadi menantu, termasuk pejabat seperti Camat dan Bupati. Waw. Ini adalah pria idola yang bisa meruntuhkan hati siapapun.

Ketiga, ada Lukman. Menurut saya, Sekar jatuh hati pada Lukman hanya karena ia menjadi malaikat di saat yang tepat. Bayangkan saja, jika kita adalah orang baru di suatu tempat dan ada seorang pria baik yang menolong. Ya, wajar jika mereka akhirnya menjalin hubungan. Latar belakang yang berbedalah yang akhirnya membuat Lukman tidak sanggup meneruskan itu dan memilih jalan aman, menikahi Sabinta. Dari keputusannya terlihat bahwa Lukman adalah tipe pria yang ingin mencari jalan yang mudah, alih-alih berusaha meluluhkan hati orangtuanya untuk menerima Sekar. Ia juga lebih suka melarikan diri dari Sekar. Namun, mengingkari kata hati tentu hasilnya tidak baik.

Yasak. Pria ini nyaris tanpa kekurangan. Ia digambarkan sangat karismatik. Ibunya baik. Pekerjaannya juga baik. Menurut saya, ini seperti dongeng. Manusia tentu punya kekurangan, bukan? Ya, tapi mari anggap saja itu sebagai kurangnya kesempatan bagi penulis untuk memperkenalkan Yasak lebih jauh. Tentu karena datangnya Yasak bisa dibilang pada ronde terakhir.

Latar

Kisah ini sebagian besar terjadi di Gunung Kidul, Jakarta, Paris, dan sedikit Bandung. Di setiap tempat, penulis berusaha menyisipkan hal-hal yang bersifat khas, seperti tempat wisata daerah itu dan bahasa. Kita bisa belajar bahasa Jawa, Prancis, dan Sunda sekaligus meskipun dalam beberapa kalimat saja. Kita juga diperkenalkan dengan air terjun Sri Gethuk, Goa Rancang, Pantai Baron, Menara Eiffel, dan Sungai Seine. Menurut saya, ini usaha yang bagus.

Untuk setting waktu, ada hal yang menarik. Sekar pulang ke Gunung Kidul pada Desember 2011 karena galau Lukman menikah. Lalu, Maret 2012 ada email dari Lukman mengabarkan bahwa pernikahannya telah gagal karena Sabinta berselingkuh. Memang bisa jadi, pernikahan zaman sekarang begitu rapuh, sampai-sampai mempertahankan 3 bulan saja kesusahan. Bisa jadi, pernikahan tersebut terjadi bukan dilandasi oleh cinta sejati.

Dalam catatan saya, novel ini layak dinikmati. Saya menyelesaikannya dalam hitungan jam. Bukan saja karena kalimat-kalimatnya mengalir, tetapi karena penulis berani memancing rasa penasaran pembaca. Saya ingin tahu bagaimana kisah Sekar pada akhirnya. Saya ingin ikut merasakan kebahagiaannya setelah berani memutuskan yang terbaik dalam hidupnya. Menurut saya, perasaan seperti inilah yang seharusnya dibangun penulis sehingga pembaca membuka halaman demi halaman dengan antusias.

Namun, ada beberapa hal lain yang sedikit mengganggu:

  • Kalimat yang janggal. Pria itu belum tua. Malah terlihat lebih muda (hal. 27). Ini terdengar aneh. Logikanya nggak masuk. Menurut saya, cukup dengan: Pria itu terlihat lebih muda dari usianya. Atau, bila memang penekanannya pada kata belum tua. Menghilangkan kata malah bisa jadi solusi. Pria itu belum tua. Ia bahkan terlihat lebih muda dari usianya.
  • Hal. 31 ada sebuah adegan dimana Demian berkomentar mengenai suasana di Menara Eiffel. “Iya. Lucu aja lihat orang pacaran di sini. Banyaknya..” Di sana, memang banyak muda-mudi yang berpacaran. Dalam hal ini, komentar Demian menjadi aneh karena bisa dibilang lingkungannya di sana. Meskipun orang Indonesia, Demian lahir dan bekerja di Paris. Seharusnya yang mengatakan itu adalah Sekar. Belum lagi ditambahin dengan embel-embel ancaman, “Sukurin. Bakalan jadi berita asyik. Pergaulan mahasiswa di luar negeri.” Dan, Demian bekerja sebagai fotografer majalah pula. Pasti hal itu udah jadi makanan sehari-harinya. Melihat komentar seperti itu, saya jadi membayangkan Demian adalah cowok brondong yang kampungan, bertabrakan dengan gambaran penulis.
  • Hal. 128. Antoro, ayah Lukman, tersenyum sembari mengelus rambut Sekar yang dibiarkan tergerai. Adegan ini terjadi pada pesta ulangtahun Ibu Lukman. Membaca kalimat ini, saya menjadi sedikit bergidik. Jangan-jangan, Antoro juga jatuh hati pada Sekar. Menurut saya, ini bukan bahasa tubuh yang wajar dilakukan pada perkenalan pertama orangtua dengan calon menantunya. Apalagi banyak orang yang melihat. Dan Sekar kan bukan anak lima tahun yang menggemaskan.

Overall, saya menyukai kisah Sekar yang berangkat dari nol menjadi terkenal dengan lika-liku hidupnya. Meskipun terasa seperti dongeng, sih. Tapi, bukankah itu salah satu kenikmatan saat membaca..

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s