Day 176: Imaji Dua Sisi, Kisah Cinta yang Dikaburkan Feromon

 

imaji dua sisi

Judul: Imaji Dua Sisi

Penulis: Sayfullan

Penerbit: de TEENS

Jmlh Hal: 330

Cetakan: Juni 2014

 

 

 

Bumi, Lintang, dan Bara adalah tiga tokoh utama dalam novel ini. Nasib mempertemukan mereka di hari pertama ospek di kampus Teknik Kimia Undip, Semarang. Ketiganya memiliki karakter yang berbeda. Bumi, cowok cupu dan out of date. Bara, cowok cuek dan sok cool. Lintang, cewek pemurung yang menghindari cowok sejak putus dengan pacarnya secara menyedihkan.

Kebetulan, ketiganya ditempatkan dalam satu kelompok LDO (Latihan Dasar Organisasi). LDO adalah adalah fase yang harus dijalani mahasiswa yang baru kuliah di Jurusan Teknik Kimia. Banyak tugas yang harus diselesaikan bersama selama masa itu. Coba tebak! Akibat perbedaan karakter yang sangat kontras, berbagai perdebatan sering terjadi. Tak jarang berujung konflik khas anak muda. Meledak-ledak. Tokoh lain, Repi, teman kos Lintang, menambah keramaian suasana pada bab-bab awal kisah ini.

Setting yang digunakan penulis adalah Kota Semarang. Salah satu tempat wisata terkenal di kota itu, Lawang Sewu, bahkan secara khusus diulik. Lawang Sewu adalah bangunan tempo dulu yang menyimpan misteri dan dianggap angker di Semarang.

Pada bagian ini, penulis mulai berani menyematkan nuansa-nuansa romantis, misalnya ketika Bumi dan Lintang berpegangan tangan tanpa sengaja.

“Bagaimana tidak hati saya bungah? Jemari Lintang tiba-tiba menggapai tangan saya dan menggenggamnya erat. Kami berlari berdua, bersama memadu langkah dan menyamakan kecepatan.” (Hal.100)

Isi hati Bumi yang melankolis terasa menyegarkan. Pembaca mulai diberi harapan bahwa kedua tokoh memiliki sesuatu yang akan dibangun bersama. Sesuatu yang menarik untuk diikuti sehingga kecepatan membaca pun meningkat.

Harapan itu tidak sia-sia.

Pada bagian selanjutnya, penulis menaikkan suhu cerita dengan menunjukkan perasaan Bara. Ternyata, cowok cuek itu pun menyimpan perasaan terhadap Lintang. Hal itu tampak dari reaksinya terhadap adegan yang baru saja terjadi.

“Aku sendiri pun tidak tahu, kenapa bisa emosiku terasa meledak-ledak saat melihat pemandangan tadi. Kemesraan yang terjalin antara Lintang dan Bumi terlihat begitu memuakkan.” (Hal 122)

Di sisi lain, Lintang tidak begitu memperhatikan kejanggalan sikap kedua teman cowoknya. Ia masih asyik menyembuhkan hatinya yang terluka karena cinta. Hubungannya dengan Rakai yang terpaksa selesai masih menyisakan rasa perih. Apalagi ketika calon kakak iparnya itu datang ke Semarang dan membangkitkan kenangan yang sudah dikubur Lintang dalam-dalam.

Penuh Deskripsi dan Surprise

Novel ini kaya deskripsi. Penulis menggambarkan setiap bagian dengan detail. Kita bisa membayangkan area kampus yang digunakan untuk ospek mahasiswa baru. Begitu pula adegan-adegan yang melintas sekilas seperti ketika Lintang telat masuk ruangan kuliah, Rakai datang ke Semarang, Repi diajak mampir ke rumah Bara, atau Lintang ditembak Anton di muka umum. Ini menunjukkan ketelitian dan keuletan penulis.

Sensory detail yang ditampilkan penulis bisa disebut lengkap. Sayangnya, potongan adegan-adegan itu belum menghasilkan rangkaian yang utuh. Satu per satu bisa saja dipenggal tanpa menimbulkan kecurigaan. Lalu pada bagian tengah, ada kebosanan yang sempat mampir. Apalagi ketika Lintang tak kunjung melabuhkan hatinya kepada salah satu cowok itu.

Bagian lain yang agak janggal adalah peran Repi pada akhir cerita. Kita telah membaca dari awal bahwa Repi begitu mengidolakan Bara. Tanpa sengaja, ia juga mengetahui rahasia Bara yang penyakitan. Namun, menyisipkan Repi sebagai tokoh yang “berkuasa” terlihat sedikit dipaksakan.

“Sudah cukup, Bar. Jangan teruskan lagi. Kamu harus beristirahat selama proses HD. Nanti, sambung lagi,” perintah Repi kepada Bara yang terlihat sedang tidak dalam kondisi baik. (Hal. 329)

“Lin, Bum, please. Jangan ganggu kami lagi, ya? Cukup Bara menanggung ini semua. Tolong, biarkan dia tenang..” (Hal. 330)

Andaipun kisah romantis antara Bara dan Repi sempat terjalin selama satu tahun yang hilang itu, rasanya tak adil jika pembaca tak boleh tahu.

Menariknya, novel ini sarat dengan istilah-istilah kimia. Feromon, volatil, laboratorium, anestesi, dan sebagainya. Mereka yang akrab atau pernah akrab dengan dunia ini pasti merasa sedang kembali ke akarnya. Ide cerita yang mengeksplorasi senyawa feromon mampu menciptakan kisah cinta tak terduga. Penulis bahkan sempat memasukkan adegan mendebarkan ketika Bara menghilang, terselip di antara nuansa romantis yang diusungnya.

Penulis menggunakan 3 sudut penceritaan, yaitu dari ketiga tokoh utama dalam novel ini. Di setiap sudut ada pembentukan image yang berbeda-beda, misalnya penggunaan kata sapa bagi diri sendiri maupun gaya bercerita secara umum. Ini butuh kepiawaian tersendiri. Hasilnya, banyak surprise yang tercipta.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s