Day 164: Selamat Datang, Presidenku!

http://indonesia-baru.liputan6.com/read/2081932/jokowi-jk-susun-kabinet-usai-lebaran
http://indonesia-baru.liputan6.com/read/2081932/jokowi-jk-susun-kabinet-usai-lebaran

Akhirnya, setelah perjalanan panjang pesta demokrasi, 22 Juli 2014 kemarin, Jokowi-JK memenangkan pemilihan umum. Bagi sebagian orang, kemenangan pasangan capres-cawapres 2 ini dipandang sebagai hasil dari doa, kerja keras, dan harapan segenap pihak yang terlibat, baik tim sukses maupun relawan (rakyat). Sebagian lain memandangnya sebagai hasil ketidakjujuran dan kecurangan yang dilakukan tanpa aturan.

Selama ini, saya mengamati proses pemilu dengan perasaan biasa saja. Bukan apa-apa, saya tipe orang yang nggak mau terlalu fanatik dengan sesuatu atau seseorang. Fanatisme menutup mata kita terhadap kelemahan idola serta menumpulkan sikap kritis. Jadi, sembari ikut mendengar berita – sekali-kali gemes dengan media yang menampilkan siaran yang timpang – saya mencoba merenungkan: siapa sebenarnya yang pantas memimpin Indonesia.

Bagi kedua belah pihak, capres pilihannya jelas paling pantas. Segala kebaikannya diungkapkan. Dan segala kelemahan lawan pun dibawa ke permukaan. Rekam jejak menjadi sangat penting. Karakter yang terlihat ketika menyikapi persoalan dan masalah ikut diamati. Rakyat begitu jeli dan teliti. Bahkan untuk hal-hal yang sangat kecil. Lantas, semua itu digunakan sebagai amunisi untuk membela calon masing-masing.

Sebulan dua bulan terakhir, media, termasuk media sosial ramai sekali. Bahkan, satu dua orang yang dulunya bukan siapa-siapa bisa terkenal dalam hitungan jam karena meluncurkan tweet fenomenal. Semua berlomba-lomba menunjukkan bahwa calonnya sangat pantas menjadi orang pertama di Indonesia. Ada yang melakukannya dengan cara yang santun, ada pula yang tidak. Semua itu tergantung pada karakter dan moral seseorang.

Sekarang, rakyat sudah menentukan. Nomor urut 2 yang akan memimpin Indonesia dalam 5 tahun ke depan. Saya sih berharap, dukungan yang mengalir meluap-luap yang diberikan kepada mereka berdua nggak akan berhenti sampai di sini. Dukungan itu terus ada hingga 5 tahun ke depan. Bukan dukungan kosong yang omong doang, bukan juga dukungan buta yang maunya manut, tetapi dukungan yang kritis dan jernih. Mendukung penegakkan keadilan di bumi pertiwi.

Kita juga harus sadar. Siapapun yang tanpa paksaan mencoblos nomor 2 benar-benar siap untuk dipimpin menjadi lebih baik. Tentu dengan cara yang baik pula. Jangan menyangka, kalau pilihan kita udah menang, lantas bisa bermalas-malasan. Kita rindu perubahan, termasuk perubahan dalam birokrasi, mental, dan kehidupan sehari-hari dan kita harus mengusahakannya. Kalau besok-besok ada kebijakan yang terasa “kejam”, jangan buru-buru berpikir negatif. Ingat kembali  alasan dari perjuangan yang ‘berdarah-darah’ untuk membawa presiden baru ini ke kursi kepemimpinan.

Tanpa bermaksud ikut larut dalam euforia, saya turut mengucapkan: “Selamat datang, presidenku. Selamat memimpin Indonesia bersama rakyat. Amanat rakyat kini ditaruh di pundakmu. Kalau lelah, berceritalah, tetapi jangan mengeluh. Di belakangmu, kami siap mendukung.”

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s