Day 121: Rabbit Hole, Merayakan Kehilangan di dalam Semesta Paralel

Berapa gelintir dari kita yang ingin mengubah peristiwa tertentu dalam hidup ini? Sebagian besar akan berkilah sambil memendam rasa sendu di dalam hati. Becca (Nicole Kidman) sampai pada keputusasaan yang serupa, meski juga tak terkatakan. Ia adalah seorang istri dan (dulu) seorang ibu. Putranya, Danny, tewas tertabrak mobil saat hendak mengejar anjingnya, yang sedang mengejar tupai, ke badan jalan.

Kejadian tersebut telah lewat delapan bulan yang lalu. Layaknya kehilangan sesuatu yang sangat berharga, Becca begitu depresi. Hal itu berdampak pada hubungannya dengan Howie, suaminya. Kadang-kadang mereka bertengkar demi hal yang sepele, meski Becca sangat cerdas menyembunyikan emosinya yang berantakan.

Tekanan berlanjut. Tetangga mengundang mereka makan malam tapi tak pernah dihiraukan. Mereka justru sibuk membuat alasan, – sampai-sampai sudah hafal dan mahir. Di tiap sudut jalan, saat mata Becca bersirobok dengan kemesraan seorang ibu kepada anaknya, ia tampak kembali terlempar dalam jurang yang dalam. Howie tidak lebih baik. Tiap malam, ia selalu memutar video yang tersisa saat putranya masih hidup. Kenangan tersebar di seluruh penjuru rumah. Danny seakan berjalan-jalan dengan santai, terutama di dalam kepala kedua orangtuanya.

Saat Izzy, adik Becca hamil, Becca tampak jelas kelimpungan. Ia membawa baju-baju Danny, untuk dipakai oleh calon keponakannya meski umur kehamilan Izzy baru beberapa minggu. Sang ibu, yang juga pernah kehilangan anaknya, Arthur, yaitu saudara Becca, berusaha memahami perilaku kedua orangtua muda yang putus asa ini, serta tidak membahas berlarut-larut saat Becca begitu keras kepala mempertanyakan ke-Mahakuasa-an Tuhan.

Selanjutnya, rekonsiliasi mulai terjadi. Becca secara kebetulan bertemu Jason, remaja tanggung yang tidak sengaja menabrak Danny. Mereka ngobrol dari hati ke hati. Entah bagaimana, keakraban terjalin. Bahkan Becca juga memberi apresiasi pada karya Danny, berupa komik berjudul Rabbit Hole. Komik ini dipadukan dengan ide dasar dari buku berjudul Semesta Paralel, yang membahas teori kemungkinan beserta kenyataan alternatif dalam hidup ini.

Singkatnya begini, ada begitu banyak kemungkinan yang bisa saja terjadi dalam hidup kita. Ada banyak “aku” dan “kamu” di luar sana. Aku bisa jadi seorang penjual asuransi, penjaga perpustakaan, atau sipir penjara. Demikian juga kamu. Yang kita alami saat ini hanya salah satu versi dari sekian banyak kemungkinan. Versi kesedihan bagi Becca.

Kemungkinan atas teori tersebut sedikit menenangkan Becca. Ia mendapat pencerahan dan jalan keluar, meski tentu saja, situasi tidak serta-merta berubah. Keputusannya memaafkan Jason bukan hal yang buruk. Demikian juga niat mereka menjual rumah bertanda telapak tangan Danny di setiap gagang pintu. Ia dan Howie membuka diri terhadap tetangga, berpura-pura menikmati kebersamaan yang hangat, sementara dalam hati mereka, tetap berharap bocah empat tahun itu muncul tiba-tiba.

Cerita ini ditutup dengan sederhana. Becca dan Howie, duduk berpegangan tangan sambil memandang jauh. Rasa sedih belum hilang, tapi kini tampak tidak terlalu buruk. Terimakasih untuk film yang tidak terburu-buru memotong proses perasaan yang manusiawi. Pada akhirnya, menerima kehilangan sambil terus melangkah maju, adalah perayaan yang sesungguhnya. Entah Anda setuju, atau akting Nicole Kidman yang jempolan, sosok Becca tampak begitu damai dan lega di akhir film berdurasi satu setengah jam ini. Layak ditonton!

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s