Day 1: Menghargai Berarti Mengasihi

Perilaku menghargai orang lain adalah keharusan alamiah. Tidak semata karena kebiasaan atau formalitas, tetapi karena kasih.

Alkisah, seorang peternak sapi dikunjungi oleh petugas peternakan. Petugas itu bertanya kepada peternak sapi, “Diberi makan apa sapi-sapi ini setiap hari? Peternak sapi menjawab, “Oh, cuma rumput saja.” Petugas pun berkata, “Kalau begitu, Bapak saya denda karena memberi makan sapi ini secara tidak layak.”

Tak lama kemudian, petugas itu datang lagi. Ia pun mengajukan pertanyaan yang sama kepada si peternak. Dengan bangga peternak menjawab, “Saya beri mereka keju, hamburger, dan susu.” Tanpa diduga, si petugas justru marah dan menjatuhkan denda yang lebih besar. “Bapak memberi mereka makan di luar batas kewajaran!” kecam petugas.

Seminggu setelah insiden tersebut, si petugas kembali mengunjungi peternakan sapi. Dengan nada tak sabar, ia bertanya kepada peternak, “Pak, sapi-sapi diberi makan apa hari ini?” Peternak itu menghela napas dengan kesal, “Begini, ya. Setiap hari masing-masing sapi itu sekarang saya beri uang tiga ribu rupiah. Terserah mereka mau makan di mana.”

Kebutuhan Manusia

Anekdot tersebut secara implisit bercerita tentang cara manusia memberi penghargaan. Rupanya peternak sapi dan petugas peternakan memiliki cara yang berbeda untuk ‘menghargai’ ternak tersebut. Kisah lain yang akrab di telinga kita adalah perumpamaan Yesus tentang domba yang hilang. Seorang gembala diceritakan tiba-tiba kehilangan seekor domba. Saking sayangnya, gembala tersebut meninggalkan 99 ekor domba lainnya di padang gurun, lalu pergi mencari yang hilang itu. Perumpamaan ini dipakai Yesus untuk menunjukkan penghargaan-Nya kepada manusia berdosa yang bertobat.

Menghargai bisa berarti memandang penting, bermanfaat, dan berguna. Menurut Lita Widyo Hastuti, S. Psi., M. Si. (44), Dosen Psikologi Universitas Katolik Soegijapranata, Semarang, menghargai adalah sikap yang gampang-gampang susah. Sikap ini sebaiknya mulai ditumbuhkan dalam kehidupan keluarga. Dalam ilmu psikologi, penghargaan berada di tingkat ketiga hierarki Maslow, yaitu kebutuhan manusia pada tataran sosial atau kasih sayang.

“Ketika seseorang tidak merasa dihargai atau dimanusiakan, ia bisa mengalami luka batin. Ia merasa direndahkan atau dilecehkan,” ungkap Lita. Contoh sederhana, ketika seseorang berbicara, tetapi tidak direspons dengan baik oleh lawan bicaranya. Apalagi pada zaman sekarang, gadget sudah menjadi bagian yang tidak dapat dipisahkan dari aktivitas personal. Akibatnya, orang lebih sibuk mengurusi gadget ketimbang berinteraksi dengan sesama.

Basis Ekonomi

Menurut Andreas Susanto, Ph. D. (50), Kepala Program Studi Sosiologi Universitas Atmajaya, Yogyakarta, hubungan saling menghargai adalah bagian dari interaksi sosial. Di sisi lain, hubungan tersebut selalu dipengaruhi oleh relasi power atau kuasa. Ini adalah karakter hubungan sosial. “Namun, kuasa kan tidak selalu berarti tidak seimbang. Meskipun pada kenyataannya relatif tidak seimbang. Ada mekanisme lain yang bisa diciptakan untuk mengatur itu. Artinya, yang lebih berkuasa bisa diatur supaya tidak mengeksploitasi yang tidak berkuasa, atau dengan kata lain menghargai mereka,” urai Andreas.

Selain mendalami ilmu sosial, Andreas juga mengamati perubahan masyarakat. Secara umum, dasar penghargaan bersifat universal, tetapi cara menghargai bisa berbeda-beda. Ketika zaman berkembang, dasar dan cara tersebut berubah. Kini, masyarakat semakin terobsesi untuk lebih menghargai sesuatu yang berbasis ekonomi. “Misalnya orang kaya dan punya mobil akan semakin dihargai. Sebaliknya juga demikian.”

Menurut analisis Andreas, perkembangan kemampuan seseorang menghargai orang lain tidak bisa dilepaskan dari tingkat peradabannya. Secara selintas, Andreas menjelaskan contoh kasus majikan dengan pembantu di mana di dalamnya terdapat relasi kuasa. Meskipun ada perbedaan status, pembantu tidak perlu diperlakukan kasar atau direndahkan. Artinya, semakin beradab seseorang, ia semakin mudah menghargai orang lain meskipun berada di pihak yang lebih berkuasa.

Menjaga Kepedulian

Penghargaan dimulai dari kepedulian. Karakter itu tidak lahir serta-merta. Lita menegaskan, keluarga dalam hal ini memiliki peran penting. Meskipun orangtua sedang sibuk bekerja, anak tetap harus diajari bagaimana menghargai orang lain. Ketika nilai-nilai tersebut tidak terbentuk dengan baik dalam keluarga, otomatis anak tidak bisa menghargai orang lain maupun lingkungan sosialnya.

Sementara Andreas melihat dari ruang lingkup yang lebih luas. Ia mengatakan bahwa penghargaan dibentuk oleh sistem. “Jadi, ada sistem yang mau tidak mau membuat orang “tanpa dipaksa” mau menghargai. Sistem ini disosialisasikan kepada masyarakat dengan menjelaskan sanksi dan reward-nya. Sistem bersifat memberi insentif. Kalau itu tidak ada, penghargaan hanya akan diberikan kepada yang punya kuasa tadi.”

“Idealnya, sistem ini diciptakan oleh masyarakat. Masyarakat memikirkan dan menganggap itu sesuatu yang baik, lalu disepakati dan dipraktikkan bersama-sama. Kemudian negara atau pemerintah mengontrol serta menjamin pelaksanaannya supaya setiap pribadi mengarah ke tujuan tersebut. Intoleransi dalam kehidupan beragama akhir-akhir ini terjadi karena lemahnya peran pemerintah mengarahkan itu,” urai Andreas.

Lantas, apakah ada hambatan bagi lahirnya sistem yang ideal tersebut? Andreas melanjutkan bahwa jika diselidiki lebih jauh, alasannya mungkin adalah kepentingan kelompok dan golongan bahkan ekonomi. Dalam hal ini, masyarakat kelas bawah dengan relasi kuasa yang lebih lemah tidak memiliki ruang dan waktu untuk menciptakan itu. Kemampuan mengolah dan proses berpikir pun dibutuhkan. “Mereka mencari makan saja susah. Semestinya bukan mereka yang bertanggung jawab membuat konsep itu. Mereka justru yang menjadi korban utama,” kata Andreas.

Belajar Mengasihi

Giamyati Tedjaseputra, MRE, M. Th., Ketua Sekolah Tinggi Theologi Salem, Malang, mengatakan bahwa konsep menghargai ada dalam Alkitab. Dalam Perjanjian Lama, manusia adalah makhluk ciptaan yang terutama. Tuhan menciptakan manusia segambar dengan Allah. Sementara itu, makna menghargai dalam Perjanjian Baru adalah memerhatikan orang lain, seperti teladan Yesus. Ia datang bukan untuk dilayani melainkan melayani. “Konsep menghargai yang benar dinyatakan dalam sikap mengasihi orang lain seperti mengasihi diri sendiri. Inti seluruh pengajaran Alkitab adalah mengasihi Tuhan dan sesama manusia.”

Kisah seekor domba yang hilang atau kembalinya anak yang hilang menggambarkan  nilai manusia yang berharga di hadapan Tuhan. Meskipun sang anak telah melakukan kesalahan yang menyakiti hati ayahnya, kepulangannya tetap diharapkan. Kasih itu nyata ketika ia disambut dengan pelukan hangat serta pesta meriah. Dalam sejarah kekristenan, tak terhitung banyaknya ungkapan kasih Tuhan untuk menyatakan penghargaan-Nya kepada manusia. Salah satu peristiwa yang paling menggetarkan adalah kematian Yesus untuk menebus dosa-dosa manusia. Peristiwa ini menjadi puncak kasih dan penghargaan Allah kepada manusia.

Secara praktis, umat Kristen dibekali aturan mengenai cara berinteraksi dengan orang lain. Dalam keluarga, hubungan suami dan istri digambarkan seperti hubungan jemaat dan Kristus. Istri harus menghormati, mengasihi, dan menghargai suaminya. Sedangkan suami, selain memimpin keluarganya, harus pula mengasihi dan menghargai suaminya sama seperti Kristus menyerahkan hidup-Nya untuk manusia. Hubungan anak-anak dan orangtua pun perlu dilapisi dengan sikap saling menghargai. Dalam Kolose 3:21, orangtua ditegur untuk tidak menyakiti hati anak-anaknya. Ini adalah salah satu cara untuk menghargai. Sebaliknya, anak-anak harus menaati orangtua mereka.

Timbal Balik

Selain keluarga, lingkungan sosial yang dihadapi seseorang adalah dunia kerja. Alkitab juga memuat aturan mengenai interaksi tersebut. Orang yang menjadi tuan harus berlaku jujur dan adil terhadap hambanya. Sedangkan hamba pun dituntut untuk taat dan tulus bekerja kepada tuannya seperti kepada Tuhan.

“Lantas bagaimana kalau orang tersebut tidak berjalan dalam kebenaran firman Tuhan? Ini sering menjadi pertanyaan. Lebih mudah menghargai orang yang baik serta menghargai dan mengasihi kita juga. Jauh lebih sulit mengasihi orang yang hidupnya tidak benar dan selalu menimbulkan masalah serta memusuhi kita. Namun, itulah perbedaan ajaran Kristus yang berdasar pada kasih kepada sesama. Harga seorang manusia di hadapan Allah menjadi ukuran bagi kita untuk menghargai orang lain,” jelas Giamyati.

Hal yang sama juga diterapkan di dunia kerja. Dalam Roma 13:1-2, Tuhan menghendaki setiap orang tunduk pada pemerintah karena Tuhan yang menetapkan mereka. Kitab Roma bukan ditulis pada zaman pemerintahan pemimpin yang baik. Namun, sikap yang diinginkan Allah adalah tunduk seraya yakin bahwa Ia memegang kontrol atas situasi seburuk apa pun.

Dilihat dari sudut pandang psikologi, Lita menjelaskan bahwa pemimpin yang tidak bisa menghargai bawahannya tidak bisa menjadi role model. Akibatnya, perilakunya tidak menjadi contoh. Semua kebijakan yang diambilnya belum tentu diamini atau bahkan tidak dilaksanakan. Kalaupun dilaksanakan, pasti tidak sepenuh hati. Jika ia turun panggung dan tidak lagi memiliki kekuasaan, otomatis ia tidak lagi dihargai. “Lain halnya jika seseorang memimpin dengan menghargai orang lain. Ketika sudah tak memimpin pun, orang-orang masih mengunjunginya sebagai bentuk loyalitas.”

Bukan Formalitas

Andreas menambahkan, pengaruh lingkungan sangat besar dalam membentuk karakter seseorang. “Masyarakat kita ini tidak berproses secara bertahap, tetapi melompat-lompat sehingga nilainya acak-acakan. Terjadi chaos sosial. Orang bingung, sebetulnya mana yang benar. Menolong , tapi kok malah kena tipu. Pejabat, tapi kok boleh melakukan hal yang tidak baik. Terjadi disorientasi nilai. Kondisi inilah yang membentuk kita sekarang ini. Orang sehat yang berada dalam situasi ini pun lama-lama bisa sakit.”

Akan tetapi, tidak berarti harapan telah pupus. Meskipun kondisi ideal mustahil dicapai, setidaknya ada niat dan tindakan menuju ke sana. Asal diberi waktu, perkembangan peradaban masyarakat bisa menjadi harapan baru. Karena sopan santun sosial yang bersifat artifisial dan formalitas belumlah cukup, bila tak disertai kasih dan kepedulian. Itulah motivasi yang paling sempurna.

(Dimuat di BAHANA, Juni 2013)

Iklan

1 thought on “Day 1: Menghargai Berarti Mengasihi”

  1. Hi, bolehkah saya memasukan artikel ini, tentunya mencantumkan sumbernya ke buletin majalah gereja saya?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s