Day 1: Kapan Saya Harus Berhenti?

Kehilangan semangat hidup bisa terjadi karena tubuh sudah lelah, visi memudar, karya tak berarti lagi. Yang terasa justru kesia-siaan. Mengapa ini bisa terjadi?

Pada suatu petang yang sejuk di California, seorang lelaki berusia empat puluhan tahun sedang duduk terisak-isak di pinggir jalan. Ia adalah gembala senior yang telah melayani sejak dua puluh tahun yang lalu. Ia juga pemimpin komunitas yang bertanggung jawab terhadap belasan ribu anggota jemaat, serta memastikan keluarganya tetap aman secara finansial.

Lalu, momen itu datang. Setelah berhasil memenuhi serangkaian jadwal pelayanan yang ketat dan pulang dengan tubuh kelelahan, ia sampai pada batas energinya. Awalnya ia begitu antusias menambahkan sejumlah pelayanan ke agenda, tetapi sekarang ia tidak yakin bisa melanjutkan semua itu. Orang tersebut bernama Wayne Cordeiro, penulis buku Ketika Anda Lelah Memimpin.

Pada masa lampau, ada pula seorang pengkhotbah terkemuka yang telah kenyang bergumul dengan depresi seumur hidupnya. Ia adalah C.H. Spurgeon (1834-1892). Tahun-tahun hidupnya penuh kegelisahan akibat mengemban tanggung jawab luar biasa terhadap tugas pelayanan gereja. Ia sering menjadi sasaran fitnah, ejekan, dan hinaan. Pada umur 23 tahun, ia pernah mengalami hal menyedihkan sehingga hatinya hampir hancur.

“Salah satu tokoh Alkitab yang pernah mengalami kelelahan adalah Elia. Hal ini tercermin dari tindakannya menyendiri dan pergi ke luar kota, serta ungkapan isi hatinya kepada Tuhan. Ayub juga mengalami hal yang sama. Awalnya Ayub adalah pria yang saleh dan tabah saat menghadapi pencobaan, bahkan ia tetap memuji Tuhan dan tidak berdosa dalam pergumulan seberat itu. Namun, ketika waktu terus berjalan dan Ayub tidak mengalami pemulihan, kelelahan mulai terlihat dalam dirinya. Akibatnya, ia lebih banyak mengatakan hal negatif seperti menyalahkan diri sendiri maupun orang lain,” ujar Pdt. Tulus Raharjo, Ph.D. (47), dosen Pascasarjana STT-P Karawaci, Tangerang ini.

Menurutnya, Elia maupun Ayub mempunyai kemiripan pandangan, yaitu menganggap kematian sebagai jalan keluar dari pergumulan yang berat.

Kelelahan Kronis

Dr. Lisa Kurnia Sari, M.Sc., Sp.PD. mengungkapkan bahwa kelelahan adalah rasa lemas, kurang tenaga, atau ingin istirahat karena berkurangnya kekuatan. Pada tingkat yang lebih tinggi dikenal istilah Chronic Fatigue Syndrome atau Sindrom Kelelahan Kronis. Kelelahan ini adalah jenis kelelahan berat, tidak hilang saat istirahat, mengganggu aktivitas sehari-hari, dan berlangsung selama 6 bulan atau lebih.

“Biasanya disertai dengan keadaan yang tidak nyaman bahkan sampai 24 jam setelah aktivitas fisik, nyeri otot, sendi, dan kepala, gangguan memori, gangguan tidur, sulit menelan, dan nyeri pada kelenjar limfa,” papar dokter spesialis penyakit dalam ini.

Kelelahan terjadi karena terlalu banyak bekerja, kurang tidur, cemas, bosan, atau justru kurang olahraga. Kelelahan bisa juga terjadi sebagai gejala penyakit tertentu. Kelelahan memberi tanda bagi tubuh untuk istirahat karena tubuh butuh waktu untuk regenerasi.

Selain karena aktivitas fisik, situasi stres emosi seperti depresi dan kecemasan juga bisa menyebabkan kelelahan. Gangguan psikis tersebut mengakibatkan reaksi peradangan serta menurunkan daya tahan tubuh. “Akibatnya, di dalam tubuh rentan terjadi infeksi dan penyakit kronis seperti diabetes, tekanan darah tinggi, sakit maag, atau kanker,” ujar dr. Lisa.

Dosen Fakultas Kedokteran Universitas Kristen Duta Wacana (UKDW), Yogyakarta ini juga mengatakan depresi disertai oleh perasaan sedih, kurangnya minat terhadap aktivitas yang biasa disenangi, perubahan berat badan, gangguan tidur, hilangnya energi, perasaan tak berguna, bahkan perasaan ingin mati atau bunuh diri.

Mengenal Depresi

Drs. Singgih Wibowo S., S.U. (63), dosen Fakultas Psikologi Universitas Gajah Mada (UGM), Yogyakarta, mengatakan bahwa depresi adalah kondisi ketika daya tahan seseorang jauh lebih kecil daripada tekanan yang diterimanya. Ketika tekanan tersebut menumpuk dan tidak dikelola dengan baik, depresi muncul. Semakin banyak tekanan yang menimpa seseorang, semakin berat jenis depresinya.

“Jika satu hal kecil tidak diselesaikan, malah dipikirkan terus, dirasakan, dan dianggap sebagai kegagalan, hal itu akan menjadi depresi. Padahal setiap orang pasti akan mengalami tekanan masalah, tergantung bagaimana mengelolanya,” kata Singgih.

Singgih mencontohkan, misalnya ada tiga siswa, yang satu biasanya mendapat ranking satu, yang lain biasa-biasa saja, sedangkan yang satu lagi biasanya berada di ranking bawah. Suatu hari, mereka mendapat nilai yang sama, yaitu B. Bagi siswa yang biasanya berada di ranking bawah, nilai B sangat menggembirakan. Sementara bagi siswa yang biasanya mendapatkan ranking satu, nilai B itu merupakan pukulan. Tidak hanya itu, tekanan juga muncul dari orangtua yang mungkin mempertanyakan penurunan prestasinya tersebut.

Orang yang memiliki toleransi frustrasi yang tinggi akan sadar dan menganalisis serta mampu melihat kondisi tersebut secara objektif. Toleransi frustrasi adalah kemampuan untuk tetap tegar menghadapi tekanan atau masalah karena melihat orang lain juga kuat menghadapi tekanan yang lebih berat. Jika toleransi frustrasi ini diperbesar, seseorang tidak akan mudah larut dalam depresi.

Karena Dosa?

Tulus menjelaskan, Ayub mengalami kelelahan karena menghadapi persoalan yang bertubi-tubi di usaha peternakannya dan keluarganya. Segala kekayaannya hancur dalam waktu yang singkat. Ia juga menderita penyakit di seluruh badannya. Dalam kondisi demikian, Ayub tidak memperoleh dukungan dari istri yang seharusnya berperan sebagai penolong. Sebaliknya, istri Ayub melemahkan harapannya untuk mengalami pemulihan bersama Tuhan.

“Pada prinsipnya, kelelahan yang dialami seseorang bisa terjadi karena dosa, langsung atau tidak langsung. Kelimpahan harta benda yang dimiliki keluarga Ayub ternyata membawa mereka kepada kebiasaan berpesta-pora. Karen itu, pada waktu Iblis ingin menghancurkan kekayaan Ayub, Tuhan mengizinkan. Dengan kata lain, dosa anak-anak Ayub bisa menjadi salah satu alasan Tuhan mencabut pagar yang melindungi Ayub untuk sementara,” jelas Tulus.

Kesendirian

Wayne Cordeiro mengisahkan perjuangannya menghadapi kelelahan pada masa-masa sibuk pelayanan dalam buku Saat Anda Lelah Memimpin. Sejak momen terisak-isak di pinggir jalan itu, ia mulai menyadari bahwa energinya telah habis terkuras. Satu-satunya cara untuk pulih adalah mengisi ulang tangki energi. Tiga tahun selanjutnya, ia fokus merenungkan di mana sesungguhnya titik pemicu insiden tersebut sehingga ia bisa menata ulang hidupnya.

Langkah pertama yang disarankan oleh seorang psikolog Kristen kepadanya adalah mengisi ulang energinya selama enam hingga satu tahun. Wayne kaget. Sebagai pengkhotbah besar dan memiliki tanggung jawab yang tidak sedikit, berlibur enam minggu saja tampak mustahil. Banyak jiwa harus ia layani. Namun, Wayne didesak. Jika ia tidak menuruti nasihat tersebut, tabrakan tidak akan bisa dihindari.

Lalu, ide itu muncul dari pengalaman seorang teman yang pernah menghabiskan waktu di pusat retret di pinggir pantai di California. Kesunyian dan kesendirian telah memperbarui dan menyegarkan jiwanya. Di tempat itu, Wayne mulai bertualang bersama para nabi di Alkitab. Ia merasakan pengalaman Yeremia ketika mengalami masa penolakan, kekecewaan, dan penderitaan batin. Wayne menemukan jawaban dari lembar-lembar firman Tuhan yang ia gumuli dalam kesunyian tersebut.

Mengalami Pemulihan

Tindakan Wayne disebut Singgih sebagai aktivitas refleksi, yaitu menyendiri untuk memahami diri sendiri agar mampu berpikir secara objektif. Hal itu bisa sangat membantu. “Tetapi, jangan dengan pikiran kosong. Itu sangat berbahaya karena tidak ada yang menuntun ke dunia yang objektif. Ada baiknya jika ditemani dan didampingi.”

Tulus melanjutkan, salah satu cara Ayub mengatasi kelelahannya adalah bertukar pikiran dengan sahabat-sahabatnya, meskipun hasilnya tidak seperti yang diharapkan. Ayub juga memperbaiki hubungan dengan Tuhan sebagai sumber kekuatan. Dalam proses itu, Ayub menemukan dan mengadakan konfirmasi dengan Tuhan sehingga ia memiliki iman yang kuat tentang siapa Tuhan. Hasilnya adalah pemulihan hubungan antara Ayub dan Tuhan.

Kelelahan bisa menimpa siapa saja. Baik orang yang fisiknya kuat maupun yang lemah. Gembala senior atau jemaat awam. Kaya atau miskin. “Berpikir dan berharaplah realistis. Jika Anda ingin menjadi yang terbaik, berusahalah sesuai harapan tersebut. Ketidakseimbangan antara harapan dan kenyataan hanya akan menimbulkan tekanan yang tinggi sehingga Anda mudah lelah,” saran Singgih.

Sementara itu, dr. Lisa menyarankan istirahat dan makanan sehat. Melakukan hal-hal yang disenangi atau hobi dan rekreasi juga bisa memperbaiki kelelahan mental. Jika mengalami kelelahan lebih dari dua minggu, sebaiknya dikonsultasikan ke dokter karena bisa jadi merupakan gejala penyakit serius.

Jalan Pulang

Tidak menyadari batas kemampuan diri sendiri adalah masalah yang dimiliki hampir seluruh umat manusia. Akibatnya, kelelahan datang menyergap. Aktivitas terhenti. Penyakit berdatangan menyerbu tubuh. Pemulihannya tidak bisa instan dan terburu-buru, selalu butuh sejumlah waktu untuk sembuh dan segar kembali. Berkaca dari pengalaman Ayub dan Elia, tidak mengabaikan sumber kekuatan sejati, yaitu Tuhan sendiri adalah tindakan yang paling bijak untuk dilakukan. Penyegaran bersama Tuhan itu akan membangkitkan kembali semangat yang baru.

(Dimuat di BAHANA, Agustus 2013)

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s